STRATEGI MELANGGENGKAN SUNDA

:Chye Retty Isnendes

(Dimuat pada Tribun Jabar, Sabtu, 121215)

Banyak cara dilakukan oleh mereka yang peduli pada suku bangsanya. Demikian juga oleh mereka yang peduli pada suku bangsa nomor dua terbesar di Indonesia ini: suku Sunda. Berbicara kesukuan di sini harus diartikan sebagai hal yang positif, modal potensial dalam bernegara, karena secara umum diketahui Indonesia adalah merupakan kesepakatan suku-suku bangsa dalam bernegara.

Setelah nama ‘Sunda’ hilang dari belantara peta dunia, lalu hilang dari belantara kepulauan Indonesia, manusia Sunda yang peduli akan kesundaannya, selalu mencari celah memaknai Sunda dengan yang baru, dengan eksistensi baru, dengan transformasi baru, dan karya-karya yang tak pernah mati.

Misalnya saja, sangat menarik interpretasi seorang yang menamakan dirinya Mandalajati Niskala yang melontarkan Sunda sebagai mikrokosmos dan hubungannya dengan dunia global, makrokosmos. Pikiran-pikiran beliau selayaknya mendapat sambutan dan re-interpretasi manusia Sunda lainnya. Hal ini perlu dipertimbangkan secara ilmiah dan dicuatkan secara nasional dan internasional. Buah pemikiran yang dipandang orisinal bisa jadi mendapat tempat dan mempengaruhi dunia secara global. Bukankah selama ini pemikiran-pemikiran yang kita sadap yang dinamakan ilmu pengetahuan selalu datang dari Barat, sebenarnya dari belahan bumi yang juga lokal?

Pelanggengan-pelanggengan Sunda sebagai jati diri dari budaya yang dititipkan Sang Maha Kuasa pada urang Sunda, banyak sekali macamnya. Untuk mempermudah mencerna hal tersebut kita bisa menggolongkannya dari wujud budaya sendiri: ide, aktivitas, dan artefak atau dari unsur kebudayaannya: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian. Tiap-tiap unsur kebudayaan tersebut sebenarnya menjelma ke dalam tiga wujud budaya seperti yang disebutkan diatas.

Oleh karena itulah, bila kemudian ada yang berbicara mengenai upaya pelanggengan budaya Sunda, seyogyanya harus integratif, tersistem, dan terstruktur dan dibicarakan secara serius dan dirumuskan dalam bentuk strategi kebudayaan. Hal tersebut mengingat demikian luasnya wujud dan unsur budaya tersebut. Strategi melanggengkan budaya Sunda sebagai suatu upaya, juga harus dibicarakan secara serius oleh yang dianggap ahli dalam bidangnya dengan pemerintah Jawa Barat. Semua rencana dan peta kegiatan harus tersusun di dalam Strategi Kebudayaan sebelum dilimpahkan secara teknis pada Dewan Kebudayaan (pemerintah, pakar, dan praktisi).

Selama ini, upaya pelanggengan Sunda dilakukan secara pribadi, komunitas, dan lembaga. Semua kegiatan dilakukan tidak berdasarkan pada rencana dan strategi yang disepakati bersama, dan mungkin tidak ada kesadaran bersama untuk itu. Kehendak, konsep, ide yang demikian mulia dalam melanggengkan Sunda dilaksanakan masing-masing, sewang-sewang. Pada akhirnya dikembalikan pada suka atau tidak suka, bukan pada konsep yang disadari bersama.

Upaya-upaya tersebut tidak bisa dikatakan tidak baik, malah sangat baik dan mulia karena memang selama ini hidupnya nama Sunda diusung oleh masing-masing pribadi, komunitas, dan lembaga tersebut, dan keberhasilannya pun diukur oleh ukuran masing-masing saja. Akan tetapi, tanggung jawabnya juga dirasakan hanya oleh pengusung yang berkehendak bukan pada manusia Sunda secara keseluruhan. Demikian juga hasilnya, di sisi kesenian (sastra, rupa, musik, tari, drama) berjalan baik, misalnya, tetapi di wilayah politik Sunda mandul tidak menghasilkan, dan di sisi kelestarian alam, tatar Sunda rusak sama sekali. Padahal menapaknya budaya Sunda membutuhkan ruang yang terkondisikan secara abstrak maupun konkret: baik dan sehat. Jadi dengan demikian, upaya memikirkan pelanggengan Sunda secara integratif, terstrukur, dan tersistem harus segera dipikirkan dan diwujudkan supaya hasilnya pun gembleng dan nyata. Sebesar dan seberat apapun tantangannya, harus dicoba, bukankah mun keyeng tangtu pareng?

Kepedulian akademis pada Sunda selama ini dilakukan oleh civitas akademika dengan melakukan penelitian-penelitian yang berhubungan dengan kesundaan. Civitas yang mempunyai kesadaran ke arah tersebut, tentu saja. Sebutlah nama perguruan tinggi UPI, UNPAD, atau STSI, belum perguruan tinggi yang berhubungan langsung dengan kesundaan seperti UNPAS, dan pergurun tinggi swasta lainnya, tentu banyak hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan kesundaan, baik dalam SKIM yang disediakan oleh perguruan tingginya sendiri maupun SKIM yang disediakan oleh DIKTI melalui LPPM perguruan tinggi masing-masing. Akan tetapi, data-data yang sudah banyak tersebut hanya menjadi konsep dan pengetahuan saja, belum menjadi aktivitas dan artefak budaya bila hanya disimpan, tidak didistribusikan pada yang berkepentingan dan tidak diakomodir, misalnya oleh pihak pemerintah, yang biasanya dianggap mengambil dan mengeluarkan kebijakan kadang tanpa referens atau tanpa penelitian sebelumnya.

Kekayaan-kekayaan aktivitas budaya pun demikian. Pada masyarakat Sunda, banyak sekali pribadi-pribadi yang peduli pada Sunda, banyak sekali komunitas-komunitas yang hidup dan menghidupi kesundaan, dan banyak lembaga yang telah melakukan kegiatan-kegiatan budaya. Sangat disayangkan bila kegiatan-kegiatan tersebut hanya berjalan sendiri-sendiri yang hidup dan mati bergantung pada kehendak sendiri pula, bukan pada cita-cita bersama agar menjadi kekuatan yang dahsyat.

Bila diilustrasikan upaya pelanggengan Sunda selama ini boleh dibilang seperti rel kereta, yang hidup berdampingan tetapi tidak pernah bertemu. Stasiun yang ada hanya merupakan kesementaraan penyamaan orientasi. Setelah itu, kembali ke masing-masing tujuan dan selesai. Padahal diperlukan ilustrasi yang lebih dari sekadar itu, ilustrasi yang memperlihatkan awal atau konsep, tengah atau proses, dan akhir atau hasil akhir gemilang. Bila masih percaya pada kaluhungan budaya Sunda, strategi kebudayaan sangat urgen dibicarakan.*
Bandung, 291115

Chye Retty Isnendes, Doktor di DPBD FPBS UPI – Bandung

%d blogger menyukai ini: