PUASA DI NEGERI ORANG

Berita tentang lamanya waktu puasa di belahan bumi Swedia yang rata-rata 20 jam membuatku teringat ketika puasa di Belanda.

Waktu itu bulan Oktober 2011, musim gugur sudah mulai mencengkeram Netherlands. Angin bertiup kencang, bahkan saking kencangnya serasa akan terbawa terbang bersamanya. Sering ketika sedang berjalan, terdiam dan berpegang pada apa yang ada di hadapan karena takutnya terbawa terbang. Kekuatan yang sedemikian dahsyat membuatku takut, karena di Indonesia walaupun ada musim berangin kencang, tapi serasa ramah dan menawarkan keriangan. Ya, angin di Indonesia ramah dan jenaka, karenanya kanak-kanak suka padanya. Maka tak heran bila pada musim berangin ini, kanak-kanak menerbangkan layang-layang, bermain ‘kolecer’, dan mencari suung (supa, istilah Sukabumi), bahkan orang tua pun tak ketinggalan.

Akan tetapi di sini…masyaallah, baru kumengerti mengapa bangunan-bangunan di Eropa berdiri kukuh dan dibangun dengan perancangan yang tahan beratus tahun. Ya, karena kalau tidak demikian, pastilah sudah beterbangan ketika musim berangin tiba, belum lagi hadapi empat macam musim yang ekstrim. Perbedaan itu juga membuatku bersyukur hidup di daerah tropis dengan kehijauan dan matahari yang didamba oleh orang-orang di negara yang bermusim ekstrim.

Suhu mulai menuju titik nol, dingin menusuk tulang, terlebih bagiku yang dari daerah tropis, suhu ini membuatku menggigil dan bibir mulai pecah-pecah. Kucari lip’s balm untuk bibirku. Walaupun bau lip’s balm-nya aneh karena dibuat dari ekstrak bunga camomile, ya harus kuoleskan juga karena bibirku bisa berdarah-darah kalau tidak dirawat.

Ketika itulah, terlintas dalam ingatan bahwa masih punya ‘hutang’ yang harus dibayar sebelum menghadapi Iedul Qurban di negeri orang. Itulah kemudian niat kulisankan dan besoknya aku berpuasa, puasa untuk mengganti (qodho) yang bocor di bulan Ramadhan. Lumayan banyak yang harus diganti, 12 hari. Alhamdulillahnya puasaku itu bertepatan dengan menghadapi bulan Dzulhijah, karena tanggal 10 Dzulhijah kan Iedul Qurban. Jadi puasaku kulengkapkan 14 hari (12 hari mengqodho, 2 hari puasa sunat untuk Iedul Qurban/ Adha).

Teman-teman mengkhawatirkan kondisiku bila terus berpuasa. Mbak Siti Gomo, Marek Ave, dan lainnya, mereka menghawatirkanku, dan berkata, “ayolah jangan terus-terusan, selang satu hari saja…” Atau ada juga yang menyuruhku untuk segera berbuka, dan ada juga yang berkata, “kamu nanti kurang vitamin C, sudah bibirnya pecah-pecah wajahnya sudah semakin pucat lagi.” Aku hanya tersenyum dan menguatkan diri, karena terasa nikmat sekali bisa merasakan berpuasa di negeri orang.

Puasaku di sana lamanya sekitar 15-16 jam. Itu kukira-kira saja karena mengikuti jadwal sholat subuh di sana. Sahur jam 03.00 karena subuh jam 04.00, lalu berbuka sekitar jam 19.00 atau jam 20.00 mengikuti jadwal sholat magrib.

Memasuki musim gugur

Memasuki musim gugur

 

Suhu yang dingin, angin yang kencang tak membuat lapar tapi membuat haus. Bagaimana tidak, pulang-pergi dengan jalan kaki ke KITLV dan seputar Universitas Leiden menyusur lorong-lorong sepi dengan udara dari hidung mengeluarkan hawa (saab, b. Sunda) membuat haus tenggorokan. Belum lagi jarak yang ditempuh bisa mencapai 4-5 KM perhari membuat kering tenggorokan.

Pada waktu berbuka, minum susu yang (di)hangat(kan) sungguh menyegarkan, ditambah dengan kue croissant besar-besar yang juga (di)hangat(kan) di oven yang dibeli seharga 2,5 € (10 biji) setiap Rabu dan Sabtu di Pasar Rabu atau Pasar Sabtu, makan dua biji saja cukup membuat perut terganjal sebelum makan besar (nasi).

Karena kedinginan, banyak tidak sahurnya dari pada sahurnya. Malas untuk bangun tentunya, tapi alhamdulillah 14 hari puasa, selamat sampai tanggal 10 Dzulhijah dan mengikuti sholat Idul Qurban dengan muslim Maroko di gedung yang dijadikan masjid.

Dengan puasa itu pula, tubuh yang mulai gemuk karena banyak makan roti, susu, dan keju menjadi langsing lagi. Ini menguntungkan bagiku yang mengemban tugas menari di Workshop Tradisi Lisan Nusantara di Universitas Leiden🙂

Begitulah kiranya pengalaman berpuasa di negeri orang, yang sekarang menjadi kenangan tak terlupakan.**

Di depan KITLV kenangan

Di depan KITLV kenangan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: