DIALAH CINTAKU

Episode 1

Dialah cintaku. Cinta kanak-kanakku. Cinta remajaku. Cinta dewasaku. Dialah inspirasiku. Dialah penumbuh patriotisme dalam dadaku. Dialah pahlawanku.

Padanya segala kenangan tertambat. Padanya cita-cita bersumber. Padanya segala kagum menjadi bangga. Padanya kecintaan pada tanah air bermula. Keberadaannya seperti fragmen-fragmen lepas, namun segala kehalusan benang sutra merah tak akan pernah putus mempengaruhi hidupku.

Dia adalah kakekku. Beliau bernama Rd. Abdurrahman Asmadiredja.

Nama panggilan beliau adalah Adang atau Eneng. Bahkan ada yang memanggilnya Neng Adang. Nama panggilan ini perlu dijelaskan karena berhubungan dengan latar belakang sosial beliau. –Nama ini pula akan memperlihatkan bagaimana ideologi seseorang berubah atau berganti. Begitu pun dengan Rd. Abdurrahman Asmadiredja yang mencatatkan namanya tanpa embel-embel ‘Raden’. Hingga tahun 1954 –diketahui dari piagam pemerintah, nama beliau adalah Adang Abdurrahman. Nama itu beliau ubah lagi pada tahun 1960-an menjadi Adang Muhamad hingga akhir hayatnya!–

Di Tatar Sukabumi dan Bogor, nama panggilan Eneng, bukan hanya untuk perempuan yang keturunan menak (ningrat) –walau panggilan tersebut bergeser fungsinya sekarang– tapi juga untuk anak laki-lakinya –sebagaimana panggilan Aom untuk anak menak di Garut, demikian juga dengan nama panggilan Adang, sebagaimana nama panggilan Dang untuk anak keturunan menak di Tatar Priangan (Bandung, Garut, Tasik, Ciamis).

Ya, kakekku adalah masih keturunan menak, salah seorang putra  pamongpraja di Kewedanaan Ciheulang, Rd. Asmadiredja. Kewedanaan Ciheulang dahulu adalah bagian dari Kadaleman Cikundul (Cianjur abad ke-19). Kakekku adalah cucu Rd. Raksapradja, mandor besar perkebunan Sinagar-Cirohani (Bogor-Sukabumi).

Latar belakang ini dijelaskan bukan agul ku payung butut ‘bangga pada keturunan’ atau membangkitkan feodalisme. Bukan. Akan tetapi, akan berhubungan dengan sepak terjang beliau yang akan diceritakan selanjutnya, seperti bagaimana bagaimana beliau mengingkari kemenakannya kemudian dengan memilih menjadi terpelajar, menjadi pejuang dengan mengangkat senjata, bergerak pada organisasi politik (bergabung dengan organisasi Islam Masyumi dan PPP (P3) yang pada waktu itu adalah tandingan Golkar dan PDI), sampai akhirnya menjadi karyawan Penmas (Penerangan Masyarakat –pendidik masyarakat).

Kakekku meninggal Mei tahun 1978 pada usia 63 tahun dengan syareat penyakit kronis akibat perjuangannya dahulu, yang tidak pernah dihargai oleh pemerintah RI. Sampai akhir hayatnya, beliau tidak mendapat pensiun dari perjuangannya tersebut, padahal beliau adalah juga ketua veteran di Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi. Ironis sekali.

(Tahun 1997, setahun sebelum Presiden Soeharto dipaksa turun, kakek almarhum mendapat lencana emas dari Presiden RI tersebut).

Ketika beliau meninggal usiaku baru berumur 5 tahun 5 bulan. Tetapi kenangan dengannya terus memenuhi seluruh ruang hatiku.

*

Semua orang percaya, bahwa aku adalah cucu yang sangat dikasihinya. Bukan tanpa alasan beliau demikian sikapnya. Hal itu dikarenakan semenjak dari bayi sampai usia ketika beliau meninggal (5 tahun 5 bulan) aku bersamanya, bersama nenek dan kakek. Ya, aku dibesarkan oleh mereka.

Masa kecil yang begitu indah. Aku dibesarkan bersama alam yang dikekola olehnya. Sawah, ladang, pancuran, selokan, kebun sekitar rumah, kolam-kolam ikan, masjid, semuanya, adalah kekuatanku, kekuatan yang diwariskan oleh kakekku pada anak-anak beliau (ua-ua, ibu, paman-bibi).

Seingatku, beliau tidak pernah tidak turun ke sawah. Walaupun ada panyawah (tukang-tukang yang diupah mengerjakan sawah-ladang), beliau senantiasan geten ‘telaten’ mengurus semuanya. Demikian juga pada panyawahnya, beliau senantiasa menjaga hubungan baik; ramah tamah; penuh senyum; dan melindungi. Sehingga para panyawah tersebut selalu lulut ‘menurut, lengket’ padanya. Moal aya dua Neng Adang mah ‘Neng Adang itu, tidak akan ada duanya’, demikian mereka selalu memuji.

Waktu itu aku sudah duduk di TK Kartini Kecamatan Nagrak. Tetapi aku juga sering bolos karena begitu seringnya beliau mengajakku ke sawah, apalagi bila musim panen tiba. Tidak dipedulikannya guruku –yang juga bibiku; tanteku; adik ibuku; anaknya sendiri, dan anehnya, akupun lebih tertarik ikut dengan kakekku ke sawah daripada ke sekolah TK bersama bibiku yang juga guruku itu. Karena aku sering ikut ke sawah, bibiku selalu meninggalkanku ke sekolah. Beliau berangkat pagi-pagi dan aku ditinggalkannya.

Suatu hari, ingat-ingat lupa: apakah aku ditinggalkan oleh bibiku atau waktu itu bibiku sedang mengikuti kursus di kota Sukabumi, aku ingin sekali pergi ke sekolah. Di rumah tidak ada siapa-siapa yang bisa mengantarkanku. Ibuku sibuk dengan warungnya (ya demikianlah adanya, walaupun rumah ibuku dan kakekku begitu dekat, tetapi ibuku punya rumah tangga sendiri –ibuku menikah lagi dengan ayah adik-adikku). Nenekku tidak mungkin karena sedang sibuk di dapur, memasak untuk nganteuran ‘mengantar makanan’ ke sawah.

Aku menangis terisak-isak. Tas makanan dan minuman telah kutenteng, tapi aku belum juga berangkat karena tidak berani pergi sendiri. Terbayang jalan raya yang panjang dan sepi, harus menyusur jalan kecil di pinggir selokan –yang waktu itu menurut perasaanku begitu lebar dan airnya sangat deras, dan akhirnya melintasi lapangan Kecamatan yang begitu luas yang di setiap sudutnya berdiri pohon beringin yang meraksasa. Aku takut. Belum berani pergi sekolah sendiri –jarak rumah kakek dan sekolah TK kira-kira tiga kilometer jauhnya—

Melihat demikian, kakekku yang sudah lengkap dengan pakaian ‘kebesarannya’ –kampret ‘baju longgar khusus untuk ke sawah’ hitam, iket ‘ikat kepala’ barangbangsemplak, dan golok bergayut di pinggangnya— marah pada semua orang yang tidak memperdulikanku. Masih terngiang kata-katanya ketika mengajakku pergi “Geus, dianteur ku Dewek we!” (Biarin, aku yang akan mengantarkannya!).

Tanganku diraihnya, digamitnya diajaknya pergi. Masih ingat, sepanjang jalan orang-orang menatap keheranan karena ada anak TK dengan seragam biru begitu kecilnya diantar oleh kakeknya dengan menyandang golok segala. Orang orang menyapa dan bertanya pada kakek dengan hormatnya.

Laki-perempuan yang sebaya dan lebih tua daripadanya, menyapanya dengan panggilan ‘Neng Adang’, ‘Neng’ saja atau ‘Adang’ saja. Yang muda-muda tetapi mengenalnya menyebutnya ‘Ua Adang’ atau ‘Mang Adang’. Semua bertanya hendak ke mana. Dijawabnya dengan bangga –tangan kiri menggenggam tanganku, tangan kanan memegang kepala golok–, mengantar cucu, katanya. Suaranya terdengar bangga.

Sampai di pinggir lapang. Beliau melepas gamitannya, menyuruhku pergi sendiri melintasi lapangan bola yang luas. Katanya,

“Sudah ya, sampai di sini saja. Pergilah ke sekolah, tidak usah takut, tidak usah lari. Kakek akan berdiri di sini, sampai kau menghilang dari pandangan (masuk ke halaman sekolah)”. Aku mengangguk. Aku berjalan pelan-pelan. Sebentar-bentar membalikkan tubuh, melihat keberadaannya. Ya, dia tetap berdiri di sana dengan tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang kepala golok. Beliau berdiri di bawah pohon beringan yang tinggi, rimbun, bak raksasa itu.

Kali lain, aku diajaknya ke sawah lagi. Dibiarkannya aku bersenang-senang dengan alam sekelilingku. Beliau memeriksa dan menyapa para pekerja. Setelah itu, beliau mengajak memetik buah nangka. Aku disuruhnya menunggui carangka ‘dua wadah yang dipikul/depan-belakang’ di bawah naungan daun-daun nangka yang lebar dan teduh. Beliau memeriksa ladang sebentar, lalu menyuruh salah satu panyawahnya memetik nangka yang dimaksudnya.

Ketika pulang, aku kelelahan karena jalan mendaki. Kakek menyuruhku naik ke atas carangka depan yang kosong. Lalu… aku dipikulnya. Para panyawah menawarkan diri, tapi kakek tidak memberikan pikulan itu. Beliau dengan terengah-engah tetap memikul aku di depan dan nangka di belakang! Dan aku, berenang-senang ngoceh sendiri di atas pikulan sambil bertanya ini-itu, menunjuk ini-itu sepanjang jalan yang dilalui! Dasar!

Ketika menyeberang jembatan bambu, beliau menyuruhku berpegang pada tali pikulan. Sesampainya di seberang jembatan, masih kuingat kata-katanya.

“Ah, lebih ringan kau Ci, daripada nangka ini!”

Rupa-rupanya itu adalah kenangan terakhir dengannya yang selalu kuingat –pulang dari sawah naik pikulan kakek, sangat sering kulakukan, tetapi moment ini mungkin yang paling mengesankan dan karena ingatanku mulai menguat.

*

Seingatku kakek sering batuk-batuk. Batuknya menjadi apabila udara menjadi dingin. Tapi beliau pantang menyerah pada penyakitnya. Tetap bekerja ke desa, ke sawah, ke kebun, dan beribadah dengan shalehnya; ke langgar.

Langgar itu beliau dirikan di samping rumah panggungnya. Langgar pun berbentuk panggung, dengan alas batu yang kokoh, dan bilik-bilik yang rapat dan baik, juga palupuh yang mengkilap karena terawat. Di samping langgar ada kolam ukuran sedang untuk berwudhu orang-orang yang akan sholat. Apabila diukur dengan pengetahuan saya sekarang, langgar itu berukuran 4 X 6 meter. Walaupun kecil, langgar itu adalah tempat penting bagi warga kampung kami; karena fungsional dan menampung segala kebutuhan warga; sholat, pengajian bapak-bapak/ibu-ibu, tempat belajar agama dan ngaji anak-anak kampung, bahkan rapat dan bermusyawarah keluarga –siapapun, dilakukan di langgar.

Di samping langgar ada kolam ukuran sedang untuk berwudhu orang-orang yang akan sholat. Di pinggir-pinggir kolam itu ditanami berbagai macam pohonan pagar dan pohon rambat erbis. Sangat lebat buahnya. Bibi (tante) sering memetiknya dan menjadikannya bahan rujak. Buah erbis itu dikeluarkan dari kulitnya kemudian digulainya…emmm, segar sekali. Apalagi bila diminum siang hari ketika udara sedang panas-panasnya atau diminum ketika berbuka puasa pada bulan Ramadhan, emmm, sungguh menerbitkan air liur, mengenangnya.

Di langgar itu, kakek mengajarkan agama, menularkan ideologi politik, dan membina rasa sosialnya. Kami mengaji dan mengkaji ilmu agama atau ilmu-ilmu lainnya. Kakek yang menjadi gurunya atau mendatangkan teman-teman seperjuangannya untuk berdakwah dan membina warga kampung. Di langgar itu pula, saya belajar agama, belajar solat, belajar mengaji, belajar mempelajari budaya Sunda yang islami bersama kawan-kawan kecil lainnya.

Tapi suatu hari kakek sakit parah. Batuknya kian menjadi, sampai-sampai suaranya hilang. Entah berapa lama beliau sakit. Di langgar, yang menggantikan menjadi imam shalat adalah ua-ua, anak kakek kedua dan ketiga, atau mereka yang disepuhkan. Di langgar, diadakan doa bersama hampir setiap malam. Nenek tidak lagi shalat di langgar tapi di rumah, karena harus menjaga kakek bersama ibu saya, bibi-bibi, juga saudara-saudara jauh yang sengaja datang menjenguk dan bermalam.

Dan malam itupun tiba.

Sehabis Isya, keluarga dan tetangga dekat sedang berkumpul di ruang keluarga, ruang dimana kakek dibaringkan. Kakek kelihatannya akan segera sehat. Wajahnya bercahaya, dan mulai menyapa, berbicara pada semua orang yang datang menjenguknya. Di bibirnya tersungging senyuman. Tiba-tiba kakek meminta makan. Semua orang terkejut dan berbahagia. Semua orang berfikir bahwa kakek benar-benar akan sembuh. Bagaimana tidak, berhari-hari beliau tidak makan, hanya obat dan air saja yang ditelannya.

Segera nenek memberinya makan dengan sayur asam yang masih hangat –sayur kesukaan kakek yang kebetulan salah seorang menantu perempuannya membawakannya dari rumah. Semua mengerumuni kakek, menyapanya, memijitinya, mengusap-ngusap kakinya atau tangannya, tak terkecuali saya. Kakek tersenyum-senyum saja.

Tak terasa waktu beranjak larut. Jam sembilan malam, tiba-tiba sakit lagi. Badannya demam sangat tinggi. Kakek mengigau. Semua panik. Beberapa saat kemudian, kakek tersadar, lalu beliau berbicara terpotong-potong. Saya tidak mengerti. Yang saya mengerti, semua kalang kabut dan suasana sangat mencekam.

Ua di Jakarta, anak laki-laki yang paling sulung, kemudian ditelpon, karena kakek terus memanggil-manggil namanya –padahal baru kemarin ua pulang ke Jakarta. Ua yang kedua, yang selalu menggantikan menjadi imam, yang kebetulan sedang sakit parah, segera dipapah dari rumahnya supaya cepat-cepat datang. Ua yang nomor tiga, yang kebetulan sedari ashyar sudah berada di rumah, segera mengambil alih komando. Ua menyuruh menelpon paman yang bekerja di Banten agar segera pulang, dan menelpon bibi yang berada di Bandung. Juga memberitahu saudara-saudara dekat dan jauh serta tetangga-tetangga.

Malam itu, malam Jumat, jam satu malam, bibir kakek tak henti-hentinya memuji “Allahu! Allahu! Allahu!”, semua yang berada di rumah juga terus meningkahi. Semua menyebut nama Allah, berdzikir. Tiba-tiba ua yang sedang sakit, yang duduk dekat kepala kakek –tangan kanannya meraba dada kakek dan tangan kirinya mengusap embun-embunan kakek, terpental ke belakang seiring dengan kalimat “Allahu!” kakek yang terakhir.

Saat itu juga ua merasa sehat wal’afiat, setelah semacam kilatan atau semacam arus listrik yang datang dari embun-embunan kakek menyengat tangan kirinya. Inna lillahi wa ina ilahi roji’un. Ruhnya telah berpulang dari raganya. Kakek telah tiada. Kakek meninggal dengan damai.

Semua menangisi kepergian kakek, kecuali Ua, Si Sulung yang tiba dari Jakarta keesokan harinya. Dengan segala kekuatan dan kepedihan hati, beliau menahan air matanya jatuh, karena beliau menjaga amanat kakek, bahwa: Erry tidak boleh menangis, apabila bapak meninggal dunia.

Setelah salat Jumat dan jenazah kakek disalatkan di langgar, diiring dengan doa ratusan orang yang hendak mengantar kepergiannya, ua kedua yang sembuh dari sakit, dengan air mata yang terus menetes, berpidato di tangga langgar memohon maaf atas kekhilafan kakek dan menghaturkan terima kasih atas bantuan semua yang hadir. Teman seperjuangan di kancah revolusi, teman seperjuangan di pesantren-pesantren, dan di pengajian terus berdatangan.

Aku melihat di rumah ramai betul seperti akan ada hajatan saja. Berkarung-karung beras datang dan diangkut ke dapur. Kambing dipotong. Ibu-ibu tetangga memasak di dapur tanpa suara dan berwajah durja, sedang di tengah rumah nenek kapidara ‘antara sadar dan tidak’ menerima tetamu –terutama ibu-ibu pengajian yang bercucuran air mata. Mata nenek kosong sedang air matanya terus meleleh di pipinya yang letih.

(Peristiwa yang kemudian kukenali sbagai ‘tahlil’, di keluarga kami yang saya tahu tidak pernah lagi dijumpai, karena Ua kami –yang pernah terpental itu mensyariatkan faham ‘Muhammadiyah’ bagi keluarga besar.)

Hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Kami mengantarkanmu, Kek! Aku bersama-sama anak kecil lainnya berlari-larian di antara pengiring jenazah, kadang mendahului yang mengusung jenazah, kadang sengaja meninggalkan diri melihat pengiring jenazah. Entah bagaimana perasaanku waktu itu, umurku enam tahun kurang. Aku menangis, tapi juga ada sebersit kegembiraan kecil dari inisiasi itu, karena banyak anak-anak teman bersenda dan juga karena dibagi receh. Selain itu, melihat iring-iringan serasa pawai saja…

Aku melihat jenazah kakek, diturunkan ke dalam kuburan. Tapi kemudian, aku diusir orang, katanya, anak kecil tidak boleh melihat! Huh, dia tidak tahu, aku adalah cucu tersayang kakek! Awas ya! Begitu gerutuku dalam hati. Ah alangkah polosnya, padahal aku tahu, kakek tidak bisa lagi mendengar keluhku…

*

Dalam Kenangan dan Kerinduan, 2006

%d blogger menyukai ini: