PUISI INDONESIAKU 5

GHIRAH BUJANGGA

: Amir Hamzah
Dengan pena ku ukir kata
Dengan pena kutuang rasa
Dengan pena ku mencinta
Dengan pena ku asuh jiwa persada
Dengan pena ku asah asa dunia
      : Sampai pena Tuhan meridlha
        Atas hidup dan matiku

Sukabumi, 23 Feb ‘96

POWER OF CHANGE

 

Apatah lagi yang hendak kau lakukan
Setelah burung-burung kehilangan sarang
Pohon-pohon kehilangan rindang; air
kehilangan cerlang dan manusia
kehilangan jiwa

Hanya kekuatan tangan dan dzikir
kau dan aku wasa memutar dunia
sekejap mata. Kembalikan naluri liar
pada fitrah imbang semesta

Sukabumi, 23 Februari ‘96

 

PARODI HUJAN

1
Airmu tercurah lagi. Kau ilham
kau keindahan dalam relung nikmat
Maha tinggi. Kau kujelang ku candai
dengan kata bergelung meski aku
tak punya payung 

2
Jatuhlah, jatuhlah lagi. Di sana di pelataran
kering. Kau dicumbui dimesrai bagai
Bujang diharap gadis datang mendekapnya
Dan kau buahi bulir-bulir runduk
yang senantiasa jadi berahi kelezatan
negeri ini

3
Deras nian kau datang. Kali ini m’bawa
amarah yang terpendam dalam tumpukan
sampah tangan tak berperikemanusiaan
Lalu kau tampar segala yang ada
mengamuk menerjang menenggelamkan
rasa dan harapan

Bukan salahmu
Kau hanya siklus yang tertahan pada nafsu
bodoh dan ketakpedulian!

Bandung, 26 Januari ‘96

(Dimuat pada PR 1996)

 

ASOSIASI

 

Kau adalah air yang mengalir, menggenapkan
tetes dan gemerinciknya yang jatuh dari
pancuran. Bening damai tenang penuh daya

Kau luluhkan jiwa gersang dalam dekapan
sejuk yang menyegarkan

Partere, 12 Oktober ‘95

 

SOLITUDE

 

Hujan di luar
Sepi di dalam
Mencekam
Merobek-robek lorong kesendirian
Menampar-nampar relung jiwa tanpa angan

Gelisah hujan
Gelisah hati tanpa kawan

Bandung, 29 Oktober ‘95

 

BUKIT MATI

            : buat Dik Satrada

Gadisku berpaling; ketika kusampaikan dua tangkai
Kembang ini. Gaunnya kusut, lirihnya lembut
Larinya bagai ingin mengurai jala di kakinya
O, nelangsa. Sedang dua tangkai kembang ini
masih di genggaman

Aku tahu dari tiupan seruling duka. Matahari
dan rembulan inangmu rintangi cita kita
Tunggulah dua belas purnama, aku datang lagi
dengan berpuluh tangkai kembang. Membawamu
lari dari bukit mati dari rekomendasi rembulan
dan matahari!

(Tragedi atas ditutupnya Jurusan Sunda IKIP Bandung tahun 1995. 
Dimuat di PR ‘96)g

 

SENJANG

 

Setelah kejadian itu, mereka tertawa tanpa sungkan
tanpa henti. Sedang di mulutnya mengalir uap-uap
cacian merobek hati nurani
Terlalu!
Padahal mereka tak mengerti rasa ini. Orang tua
Selalu sinis mengintip asa dari darah daginya
Lalu muntahlah darah tuduhan
: bahwa kami tidak bisa berinteraksi! Pfuah!

 

Pascademo IKIP Bandung, 14 September ‘95

(Dimuat di PR ’95)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: