PENGAJARAN BAHASA SUNDA

: Chye Retty Isnendes

(Dimuat pada Pikiran Rakyat, Minggu 20 Feb 2011)

Tulisan ini berangkat dari dua kali lontaran pernyataan di forum oleh Rektor UNPAD, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, D.E.A., yang menganggap pengajaran bahasa Sunda sulit. Pertama kali dilontarkan ketika seminar pada penyerahan Hadiah Hardjapamekas bagi guru terbaik, 23 September 2010 di UPI dan kedua kalinya ketika Seminar Internasional Reformulasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda, 9-10 Februari 2011 lalu di Jatinangor UNPAD. Kalaulah bukan dari beliau pernyataan yang sekaligus pertanyaan itu terlontar, mungkin pengaruhnya tidak terlalu signifikan bagi UPI Bandung, khususnya bagi lembaga Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah yang memproduksi guru bahasa Sunda. Karena walau bagaimanapun, hal ini bisa menjadi pencitraan negatif bagi lembaga tersebut.

Sebenarnya lontaran di atas harus berdasarkan penelitian, sebagai titik tumpu pernyataan ilmiah, karena harus diukur tingkat kesulitannya dan pada komponen apa kesulitan itu terjadi. Tidak bisa pernyataan tersebut berdasarkan kasus seorang perseorang saja. Tetapi walaupun belum ada penelitian mengenai itu, pernyataan tersebut sah-sah saja digulirkan sebagai wacana.

Sistem Makro

Selama ini, bila ada yang menyatakan bahwa pengajaran bahasa Sunda sulit selalu dimulai dari prasangka. Prasangka tersebut berhubungan dengan pola pikir yang menempatkan pengajaran bahasa Sunda sebagai sesuatu yang tidak merenah di era globalisasi ini. Hal itu memperlihatkan proses nalarisasi dan sikap yang buruk terhadap pengajaran bahasa Sunda. Paradigma negatif ini harus segera dihindari. Selain itu, harus diakui bahwa setiap mata pelajaran mengandung kesulitan-kesulitan, bukan hanya bahasa Sunda. Contohnya saja: matematika, fisika, kimia, bahkan bahasa Indonesia dan agama sekalipun. Kesulitan ini berhubungan dengan karakter keilmuan pada tiap pelajaran, dan hal itu seharusnya menjadi tantangan bagi komponen pendidikan dalam proses pembelajaran.

Pengajaran bahasa Sunda adalah bagian dari literari; kemampuan komunikasi; keterampilan berfikir kritis; dan penyesuaian atas adat-istiadat yang harus dipandang penting dan dibutuhkan. Faktor-faktor tersebut adalah bagian dari pendidikan makro, terutama bila merujuk pada Townsend dan Oten (1999) yang menempatkan faktor tersebut berada pada pilar pertama: pendidikan untuk kelangsungan hidup (masa). Belum lagi bila membahas pengajaran bahasa Sunda dari kepentingan pilar kedua dan ketiga: kedudukan atau tempat manusia di dunia (latar alamiah) dan hakikat masyarakat yang saling berkaitan (bentuk kegiatan yang alamiah).

Sistem Mikro

Sekait dengan pendidikan mikro, yaitu: tujuan (educational aims and objectives), siswa (learner, student), guru (educator), tindakan dan proses (educative process), dan lingkungan dan lembaga (educational institution) dalam pengajaran bahasa Sunda, harus dicermati di bagian mana masalahnya.

Tujuan pengajaran bahasa Sunda telah terangkum dalam kurikulum yang menurut penulis sudah demikian idealnya, yaitu menempatkan sisi komunikasi bahasa atau keterampilan yang aplikatif, dibandingkan kurikulum sebelumnya yang teoretik. Kurikulum pengajaran bahasa Sunda tersebut terangkum dalam SKKD yang mudah ditelaah, ditafsirkan, dan diaplikasikan.

Akan tetapi, sesuatu yang ideal kemudian menjadi sulit jika berada pada tangan guru (pengajar) yang tidak berpengetahuan atau tidak berpengalaman atau tidak mempunyai daya kreativitas dalam mengelola kurikulum tersebut. Belum lagi heteroginitas latar belakang akademis guru –hal ini akan berhubungan dengan kebijaksanaan pengambil keputusan (decision maker) ketika mengangkat guru bahasa Sunda yang tidak kompetentibel.

Berkaca pada realitas di lapangan dan dari sertifikasi guru dalam jabatan, selama 30-20 tahun terakhir ini, pengajar bahasa Sunda kebanyakan bukan dari lembaga pendidikan tinggi yang kapabel mengeluarkan produk guru bahasa Sunda. Juga pada rentang waktu 10 tahun terakhir, masih sekitar 35:65 (35 persen banding 65 persen) pengajar bahasa Sunda lulusan UPI dengan non UPI –termasuk di antaranya dari UNPAD yang mengambil akta mengajar. Belum lagi dari latar keilmuan yang sama sekali bukan rumpun ilmu bahasa, turut menyumbangkan masalah pada pengajaran bahasa Sunda, saya kira. Boleh jadi siswa merasakan stagnan; bosen; rehe; sulit karena guru tidak cukup alat pedagogiknya ketika mengajarkan bahasa Sunda.

Faktor mikro terakhir yang menjadi determinisme adalah: lingkungan (lembaga sekolah dan keluarga). Bila lingkungan sekolah tidak kondusif bagi pengajaran bahasa Sunda akan mempengaruhi siswa dalam menyikapi pelajaran bahasa Sunda. Di sinilah peran pemerintah yang sudah benar mengatur bahasa dan sastra Sunda dalam Perda No. 5 Tahun 2003, harus kembali mengevaluasi pelaksanaannya di lapangan (sekolah).

Kepala sekolah juga harus punya goodwill, sikap, dan melaksanakan perda tersebut karena hal itu adalah hukum yang berlaku. Diantaranya, bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pembelajaran harus dipatuhi dan dilaksanakan di PAUD, TK, dan SD (kelas 1-3). Tidak ada alasan ‘banyak pendatang’, lalu digunakanlah bahasa nasional atau menurut Chaedar Alwasih (2009) disebutkan sebagai ‘sikap toleransi penutur Sunda yang lebih (atau berlebihan?) dibandingkan dengan penutur Jawa’. Dalam hal bertamu, baik dalam hukum negara ataupun hukum agama telah diatur ketentuannya, yaitu pada masa-masa tertentu (tiga hari) pribumi harus menerima tamu. Setelah itu, tamu yang harus menyesuaikan diri. Ditanamkan kembali pepatah dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Selain itu, orientasi pendidikan di lingkungan sekolah turut mempengaruhi pengajaran bahasa Sunda. Orientasi SBI atau RSBI bukan harus seenaknya meniadakan pengajaran bahasa Sunda. Atau menyembah-nyembah kehebatan pendidikan internasional barat sedangkan orang barat sendiri menikmati ketradisian timur (lokal). Atau kasus sekolah-sekolah umum yang lebih baik memberdayakan guru yang ada (walau dari keilmuan yang berbeda) daripada menyediakan atau membuka pendaftaran bagi guru bahasa Sunda (honorer atau PNS).

Lingkungan lain yang harus mendapat perhatian lebih adalah keluarga (informal). Keluarga adalah satuan terkecil yang secara normatif mempunyai kewajiban mengajarkan bahasa indung (dalam hal ini bahasa Sunda). Apalagi bila merujuk pada UNESCO, yang disebut bahasa ibu adalah bahasa daerah bukan bahasa nasional, maka patutlah keluarga berperan dalam menanamkan kejatidirian anak semasa prasekolah. Keluargalah yang bisa mengestafetkan rasa dan bahasa Sunda sedini mungkin. Dan itu akan menjadi landasan karakter yang kuat ketika anaknya dewasa kelak.

Jadi sebenarnya, ketika seseorang merasa kesulitan dengan pengajaran bahasa Sunda, sudahkan merefleksi diri? Jangan-jangan di dalam rumah sendiripun bahasa Sunda tidak dipakai dan diingkari? Tidak ada transfer kesinambungan rasa dan bahasa Sunda pada anak-anak kita? Lalu dengan mudahnya menyatakan bahwa pengajaran bahasa Sunda sulit di sekolah?

Jadi, mudah saja pengajaran bahasa Sunda itu sebenarnya. Hanya membutuhkan kesadaran dan kreativitas dari: pengambil kebijakan, guru, dan orang tua. Kurikulum mah bisa digulanggaper dan peserta didik bisa dikondisikan.

Ya, yang terlanjur, sudahlah. Yang terpenting sekarang semua komponen didik (makro dan mikro) menempatkan ke-merenahan bahasa Sunda pada tempatnya yang layak, bahkan penting dan dibutuhkan dalam membentuk kedirian bangsa ini. Tuhan sudah memilih bahasa Sunda untuk bangsa (etnis) Sunda. Bukankah itu anugerah terindah yang harus disyukuri? Mengapa menjadi sulit dan diingkari? ***

Bandung, 15022011

Penulis adalah dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah UPI, kandidat doktor di Sekolah Pascasarjana UPI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: