PENDIDIKAN DAN BELAJAR

Sering kita mendengar pernyataan bahwa negara yang memiliki kemajuan itu disebabkan oleh kamajuan di bidang pendidikannya. Benarkah demikian?

Tidak gampang menjawab soal ini. Yang menjadi masalah adalah istilah pendidikan yang begitu luas dan dari perspektif mana kita menempatkan jawaban kita. Apakah pendidikan dalam kerangka konsep atau pendidikan formal yang terstruktur dan melembaga?

Hal ini harus dikedepankan, karena bila melihat bukti bahwa suku atau bangsa Maya Kuno yang  beradab, berilmu, dan mengusai ilmu falak yang khusus dan mendalam, terutama sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi, pendidikan sebagai hal formal, terstruktur dan melembaga (akademisi) akan tertolak tesis ini.

Demikian juga dengan bukti bangsa Mesir yang luar biasa majunya. Peradaban Mesir Kuno didasari atas kontrol keseimbangan yang baik antara sumber daya alam dan manusia, yang ditandai terutama oleh:

  • irigasi teratur pada Lembah Nil;
  • eksploitasi mineral dari lembah dan wilayah gurun di sekitarnya;
  • perkembangan awal sistem tulisan dan literatur independen;
  • organisasi proyek kolektif;
  • perdagangan dengan wilayah Afrika timur dan tengah serta Mediterania Timur; serta
  • aktivitas militer yang menunjukkan karakteristik kuat hegemoni kerajaan dan dominasi wilayah terhadap kebudayaan tetangga pada beberapa periode berbeda.

Bukti-bukti ini bisa terus berkembang dan menguat, dan menjawab pertanyaan pendidikan sebagai hal formal, terstruktur dan melembaga akan tertolak.

Akan tetapi, bila pendidikan sebagai konsep yang ‘natur’ alamiah, yang berupa ilmu pengetahuan yang empirik dan diajarkan sebagai pengetahuan dan keahlian, yang kita tidak mengetahui bagaimana konsep pendidikan mereka, kealamiahan mereka dalam membangun peradaban adalah juga hasil dari pendidikan.

Pendidikan yang kita ketahui sekarang ini adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (www.wikipedia.com.) Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan menjadi sistem yang teratur, formal, dan melembaga.

Bila menginterpretasi definisi ini, sangat-sangat filsafatis dan Islami, tetapi kenyataannya konsep-konsep yang berkembang saat ini di Indonesia sangat sekuler. Filsafat pendidikan yang menjadi definisi untuk kata ‘pendidikan’ ini pastilah filsafat Indonesia yang berpijak dari budayanya yang positif. Demikian pula dengan sifat Islaminya yang kental mewarnai definisi ini. Akan tetapi, apa yang terjadi?

Potret wajah pendidikan Indonesia justru buram dan mundur, terutama akhlaknya. Ya maju kecerdasannya (pengetahuannya, kognisinya) dan bisa membangun hal-hal luar biasa sampai bisa menembus langit dan kejaiban-keajaiban fisikali lainnya, tetapi kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia seolah mundur tak terkendali. Apakah ini yang disebut maju?

Apalagi bila Islam menjadi pondasi definisi ini, jauh panggang dari api. Mengapa konsep yang sedemikan bagus dan hebatnya, menghasilkan carut-marut wajah Indonesia seperti sekarang ini? Apakah karena pekakas (tools) yang dipakainya salah?

Pendidikan adalah memberdayakan. Konsep ini berakar dari belajar, learn, learning. Learning adalah attarbiyah (b. Arab). Attarbiyah diambil dari tiga akar, yang masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda (Syarief, 2005).

Ini penjelasannya. Yang pertama adalah Rabba-Yarbu yang diartikan sebagai tumbuh (improve, improvement –Ing). Yang kedua adalah Rabbiya Yarba yang diartikan sebagai berkembang develop, development –Inggris). Yang ketiga adalah Rabba-Yarubbu yang diartikan sebagai mendidik; memberdayakan (empowerment, to empower –Inggris). Jadi, pendidikan adalah proses dalam belajar; pembelajaran. Lebih sempit bukan lebih luas dari belajar.

Yang paling menarik dari kata attarbiyah adalah adanya akar kata rabba dan rabbi, yang mengingatkan kita pada kekuatan Sang Maha Pencipta, artinya ada sifat keilahian dalam proses belajar hingga terdidiknya satu jiwa. Dengan demikian, belajar atau pun pendidikan sangat erat dengan sifat mental yang mengandung: keilahian, cahaya, dan kebenaran, bukan hanya fisik semata.

Oleh karena itu, pendidikan akan berhubungan dengan proses spiritual menuju peradaban (etika) bukan hanya intelegensi dan skill. Apabila secara spiritual sebuah negara sudah ajeg dan beradab –dalam arti tatanan masyarakatnya benar (mempunyai moral positif), baik, dan besar, maka yang lain akan mengikutinya, dan jadilah negara itu sebagai negara yang maju.

Contohnya negara maju di Asia menurut saya adalah Jepang dan Malaysia. Moral kedua negara itu sudah ajeg di masyarakatnya, kebenaran universal dipertahankan. Mengapa sampai bisa demikian? Karena kedua Negara itu tidak mempunyai landasan kepercayaan yang mendua (Jepang dengan Sinto, Malaysia dengan Kerajaannya Islam)). Dengan demikian masyarakatnya tidak berada pada kondisi kebingungan dan mendua.

Sebaliknya dengan Indonesia, yang sangat parah kondisi peradabannya (untuk dekake sekarang) menjadikannya terpuruk dalam situasi-situasi sosial dan budaya yang buruk. Korupsi tertinggi dan hebat, mutu pendidikan berada pada skor ke-12 di Asia, bencana alam yang tak tertanggulangi, kurang bertanggung jawabnya aparat pemerintah, dan maraknya kasus-kasus sosial lainnya, menjadikan Indonesia sebagai bukan negara maju, karena masalah-masalah spiritual belum terselesaikan apalagi terimplementasikan. Hal ini menurut saya kemenduaan yang kita punyai, landasan dasar negara Pancasila, kepercayaan tertinggi Islam, sedangkan ideologi dan tools¸perangkat yang dipakai dalam segala bidang adalah Barat (sekuler). Jadi, Indonesia akan terus menjadi Negara yang terpuruk dalam segala hal apabila belum bisa menentukan kepercayaan dan ideologi dengan mantap.

Bukankah kepercayaan dan falsafah sebuah Negara sangat mempengaruhi sistem pendidikannya?

Kesimpulan dari tulisan ini adalah yang disebut negara maju adalah negara yang masyarakatnya benar, baik, dan besar (hebat) sebagai hasil dari belajar. Selain itu patut diluruskan pengertian pendidikan yang ternyata dalam konsep Islam menjadi bagian dari belajar dan pembelajarannya, bukan sebaliknya. Bila mengenai konsep saja masih seperti ini, mungkinkah Indonesia akan maju dan besar?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: