PASAR MALAM KLILING SURINAME

: Chye Retty Isnendes*

Tanggal 24 Oktober 2011 malam, datang empat orang tamu ke rumah kosan kami di Nieuwe Rijn 18 F Leiden. Mereka adalah dua pasang suami istri. Pasangan pertama adalah Bapak Suhardi dan Ibu Sumili, orang Indonesia yang menjadi warga negara Belanda. Beliau berdua pernah bekerja di Kedubes Indonesia untuk Belanda di Den Haag. Sekarang mereka berdua sudah pensiun, tetapi keduanya aktif dan menjadi sesepuh dan pembina untuk urusan kesenian. Pasangan kedua adalah adalah Pak Wim dan Bu Hermien, warga negara Suriname yang masih keturunan Jawa. Mereka adalah ketua sanggar seni Manggar Megar di Suriname. Mereka kenalan Bapak Dr.  Sutamat Arybowo, supervisor kami dari UI di Leiden –supervisor kami ada tiga, yang kedua adalah Prof. Dr. Robert Sibarani dari USU dan Prof. Dr. Mariyah Emilia dari UNUD.

Wah rumah tanpa ruang tamu itu jadi ramai, penuh cerita dan gelak tawa. Tamu kami berkomunikasi dengan alih-alih kode, bahasa Jawa, Sunda (Bu Sumili orang Sunda dari Sukabumi), Indonesia, Belanda, dan Inggris. Kadang Bu Hermien dan Pak Wim mencari padanan kata bahasa Jawa dalam bahasa Belanda atau Inggris, karena sudah lupa katanya. Kadang kami memberikan diksi yang mereka lupa itu dalam bahasa Jawa atau Indonesianya. Gelak tawa penuh kelucuan akan bahasa ini sangat menarik bagi saya, atau juga orang linguistik, karena ini berhubungan dengan sisi pragmatik, sosiolinguistik, dan etnolinguistik.

Jam sepuluh malam, setelah makan malam dengan nasi pecel, oseng tempe, dan ayam goreng, mereka hendak pulang, tetapi sebelumnya Bu Hermien dan Pak Wim, meminta pada kami agar ada yang menyumbang kesenian pada tanggal 5 Nopember 2011 pada acara Pasar Malam Kliling Suriname yang diadakan oleh Sanggar Manggar Megar (sanggar Mayang Mekar, manggar-mayang-bunga kelapa). Pak Sutamat merekomendasi saya dan Bu Wayan Sumitri untuk turut menyumbangkan tarian, dan kami menyanggupi. Tetapi sebelumnya, tanggal 31 Oktober 2011, malam, Pak Suhardi dan Bu Sumili mengundang kami dan Pak Wim-Bu Hermien untuk makan malam di apartemennya di Den Haag, jalan Juliana.

Wah kami senang sekali makan malam di sana. Bu Sumili benar-benar memberi surprise pada kami. Dengan makanan pembuka, somay Bandung yang hemmmm lezatnya, lalu disambung makan malam dengan rencang sangu yang enak-enak ala Indonesia: rendang, gudeg, tempe bacem, tahu bacem, ikan asap, ikan balado, sayur asem, pecel, lalab, sambel, kerupuk, rempeyek, apa lagi ya? Waah pokoknya barieukeun (bingung memilih kawan nasi). Makanan penutup bibika ambon dan kulub suuk (godog kacang), tidak bisa lagi kami makan, saking kenyangnya.

Pulang dari apartemennya hati kami senang karena perut kami penuh dan di tangan pun ada jinjingan makanan buat di rumah, begitu kata Bu Sumili yang baik hati. Wah ini yang namanya balakatriktrik-balakacombrang, beuteung mutiktik-berekat meunang (balakatriktrik-balakacombrang, perut kenyang, berekat di tangan).

Menunggu tanggal 5 hati saya deg-degan. Dengan latihan dan latihan, saya dan Bu Wayan Sumitri, menentramkan hati. Karena memang ini adalah tampilan pertama kami di luar negeri, walau pada komunitas Suriname yang notabene mengenal budaya yang sama, tapi tidak sama dengan di komunitas sendiri. Apalagi bagi saya ini adalah debut pertama menari lagi, setelah 24 tahun tidak pernah menari lagi. Setiap latihan, saya bayangkan saya berlatih dengan Neng Deti Yulianti, mahasiswa yang jadi guru jaipongan saya.

Wah…tulang-tulang saya sudah kaku, jari yang disibukkan di dapur dan di kampus sudah tak lentik, gerakan tak lentur, perut yang berlemak, pikiran yang dibebani tugas akademik menjadi devil dalam wirasa saya. Wiraga oke, lah, wirahma masih bisa mengejar blak-tuk kendang, tapi wirasa? Kang Syahrial, dari UI mengkritik. “Neng, konsentrasi, jangan kosong!”, lain kesempatan dia kritik lagi, “coba dengarkan syairnya, Neng, kamu harus berusaha menghayatinya.”

Itu dia! Selama latihan beberapa bulan di Bandung dan sebulan di Leiden, saya mengabaikan syair itu, padahal saya menggeluti sastra. Dua hari saya kontemplasi teks jaipong Senggot, subhanallah, meriding saya mendengar syair jaipongan itu. Ternyata isi dari teks itu adalah rindu dendam yang sangat dari seorang perempuan yang dipertemukan lagi dengan seseorang yang dicintainya. Dia sangat menyesali perjalanan cintanya, tetapi akhirnya pasrah dan rumasa bahwa semua adalah tulisan Tuhannya. Walau dengan bahasa Dermayon, saya mengerti dan paham teks tersebut. Terima kasih Kang Syahrial.

Nah bagaimana saya menghayati itu semua lalu mencurahkannya dalam gerakan, rindat, dan ules? Rindu-dendam yang dahsyat dipancarkan dalam tarian jaipong Senggot yang gagah dinamik? Saya harus bisa.

Latihan dengan Bu Wayan Sumitri kerap ditingkahi ketawa yang bergelak-gelak. Ternyata faktor U alias faktor usia tidak bisa membohongi diri, walaupun beliau adalah dosen yang penari. Berkali-kali latihan kami terhenti, karena Bu Wayan yang akan menari Tenun (Bali), dari posisi jongkok tak bisa berdiri. Tos aboot… oleh badan sendiri hehe. Begitupun saya yang mengganti  beberapa gerakan dengan mencipta sendiri, ketika posisi nagog  alias jongkok, oleng lalu jatuh, menimbulkan kelucuan dan tertawaan. Tapi kami harus menari!

Ngagayya heula... (bergayya dulu ^_^)

Tanggal 5 Nopember, tibalah saatnya. Setelah berdandan sataker kebek alias sepenuh kemampuan, saya tampil pada giliran pertama. Bismillah terus saya ucapkan, parancah saya bacakan. Prung ah! Tarik Mang! Senggot… Kilatan kamera, rekaman video, penonton yang berjubel di depan panggung, saya perhatikan sebentar. Saya hayati penuh setiap gerakan, bukaan, seblak, sontreng, mincid, silat, sepenuh hati saya lakukan. Saya bayangkan gemulainya Neng Deti Yulianti ketika menari, saya bayangkan juga Neng Masyuning, saudara saya di STSI yang gagah silatnya.

Kilatan kamera tak berhenti sepanjang menari, penonton tak bersuara. Entahlah, apakah terpesona atau bingung pada gerakan saya yang sakarep-karep. Ada yang tersenyum di tengah penonton, mungkin penonton akhli yang mengetahui kelemahan? Atau justru terpesona? Saya terus menari sampai bunyi musik berhenti dan jaipongan saya tutup dengan gerakan hormat. Tujuh menit berlalu sudah. Lalu…tepuk tangan meriah saya dengar sampai saya menghilang di balik layar.

Giliran selanjutnya Bu Wayan Sumitri, 12 menit memang lama untuk sebuah tarian. Saya dengar penonton bertepuk tangan riuh untuk beliau dari kamar rias. Bu Wayan Sumitri datang dengan senyum penuh arti, matanya Bersama para penari Tayungan...berbinar-binar kegirangan. Alhamdulillah tidak terjadi accident pada tarian kami. Kami saling bersalaman dan berpelukan.

Alhamdulillah selesai tugas kami. Masih ada lagi yang harus ditunaikan pada tanggal 2 Desember 2011 mendatang, workshop di hadapan para mahasiswa Universitas Leiden. Mudah-mudahan kami bisa menyelesaikan tugas sampingan ini dengan baik. Tugas pokok riset kepustakaan terus kami laksanakan. Terima kasih kepada semua kawan mahasiswa di program sandwich ini yang membantu dan menyemangati kami, para supervisor, dan terutama Ibu Prof. Dr. Pudentia MPSS, M.A dari UI –Ketua ATL beserta staf dan anggotanya yang telah berjuang demi tradisi lisan dan kebudayaan, Prodi B. Indonesia Pascasarjana UPI, dan juga Jurusan Pendidikan Bahasa daerah UPI. Bravo!***

*Chye Retty Isnendes, Mahasiswa PBI S3 UPI; Sandwich students of Oral Tradition Studies.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: