Kritik Sastra: MENIMBANG KEINDAHAN SASTRA NOVEL RISALAH CINTA SEJATI (RCS) ABIDARDA

Novel Kang Wi

Novel Kang Wi

Chye Retty Isnendes

 /1/

Kegiatan membaca awal karya fiksi adalah kegiatan membaca penuh emosi dimana seluruh penghayatan kita arahkan pada cerita semata. Pembaca yang baik akan menanggalkan pengalaman dan intelektualitasnya demi mencerap totalitas daya cerita yang dihadirkan oleh pengarangnya. Pengalaman baru itu menghadirkan emosi, wawasan, dan pertanyaan-pertanyaan tentang ending cerita.

Perasaan sayapun demikian pada saat membaca RCS. Perasaan saya terlibat penuh: merasa tergugah, terharu, menangis, tertawa, gamang, dan ikut menderita atas nasib tokoh. Wawasan dan pengetahuan saya menjadi bertambah di antaranya tentang: filsafat dan risalah Islam, budaya kelompok, perjuangan Jati Gede, falsafah kehidupan, perasaan (seorang) lelaki, pandangan (seorang) lelaki pada perempuan, perjalanan ziarah, dan berbagai macam cinta. Pertanyaan-pertanyaan tentang ending cerita juga menjadi kepenasaran saya –jika membaca sebuah novel, saya tidak pernah melihat atau mencuri baca endingnya, karena saya mengharap keterkejutan atau ketiba-tibaan yang menghantarkan pada kenikmatan indrawi (emosi, persepsi, dan sensasi), kenikmatan indrawi itu penting dihadirkan untuk mencapai kenikmatan yang lebih tinggi atau kenikmatan intelektuali dan ruhani (interpretasi, kritisi, dan evaluasi)–

Sayang ada sedikit yang mengganggu kenikmatan itu, saya tidak bisa membaca novel RCS dengan gogoleran atau ngadapang dengan kaki lalanggiran karena yang saya baca adalah soft-nya dalam bentuk pdf J Suasana ini sedikit banyak mempengaruhi penilaian estetik pembaca karena kenyamanan membaca juga diperhitungan dalam menimbang karya sebagai satu tegangan estetik (yang nanti akan kaguar).

/2/

Saya mencoba mengarahkan bahasan ini dengan judul menimbang keindahan sastra. Menimbang keindahan sastra yang dimaksud adalah dalam pengertian sastra sebagai karya seni, bukan menghasilkan penghakiman sebagai sastra serius atau sastra populer? Bermutu atau tidak? dan sebagainya.

Sastra sebagai karya seni tentu bermacam-macam konsepnya. Salah satunya adalah konsep estetik Melayu atau Indonesia menurut Braginsky[1] bahwa karya dipandang dari tiga konsep, yaitu: 1) aspek ontologis, 2) aspek imanensi dan 3) aspek psikologi (pragmatik). Tetapi dalam tulisan ini konsep yang dipakai adalah konsep estetik Mukarovsky[2]. Menurutnya sastra sebagai karya seni berujung pada pembaca sebagai penikmat, dan bergantung pada cakrawala harapan pembaca yang bisa diwakili oleh yang dianggap sebagai pembaca ahli[3].

Menurut Mukarovsky, sastra sebagai seni bisa dilihat dari sastra sebagai tanda yang dimaknai oleh pembacanya, karena itu nilai estetik pada sastra lahir dari tegangan-tegangan antara karya dan pembacanya. Pemberian arti dari pembacanya akan berlangsung terus-menerus dan tidak sekali jadi. Oleh karena itulah, sebuah karya seni bisa dinikmati berulang-ulang karena selalu memunculkan arti baru dan kenikmatan baru bagi pembacanya. Apabila sekali membaca, pembaca merasa bosan atau muak pada karya itu, hal itu patut dipertanyakan. Apakah dari hal karyanya yang bermasalah atau dari pembacanya yang tidak mampu menghadirkan arti dan kenikmatan seni.

Tegangan apakah yang dimaksud Mukarovsky? Menurutnya tegangan itu adalah: tegangan fungsi puitik bahasa, tegangan yang inhern pada strukturnya, tegangan pada variasi karya, tegangan antara konvensi sastra dan karya individual, tegangan antara mimesis dan kreasi, dan tegangan pembaca dalam situasi membaca, tegangan antara estetik dan jarak waktu, dan tegangan antara penulis dan pengahayatan pembaca.

Dalam pembahasan ini akan diuraikan tiga saja, yaitu: 1) tegangan fungsi puitik bahasa, 2) tegangan yang inhern pada struktutnya, 3) tegangan antara mimesis dan kreasi. Dari uraian tiga hal tersebut, diharapkan mampu menimbang keindahan sastra RCS.

/3/

Tegangan fungsi puitik bahasa. Tegangan pertama pada puitik bahasa telah disodorkan lewat judul novel. Penggunaan diksi RISALAH memperlihatkan latar belakang dan arti secara keseluruhan, karena diksi ini dari bahasa Arab. Dalam kamus[4] disebutkan bahwa arti risalah adalah: 1) yang dikirimkan (surat, dsb), 2) surat edaran (selebaran), 3) karangan ringkas mengenai suatu masalah pada ilmu pengetahuan, dan 4) laporan rapat; notula.

Tentu pengertian kamus tidak masuk pada diksi risalah yang dipakai judul novel, karena di sana ada pengertian yang meningkat dan bersifat puitik yang bukan surat, bukan karangan ringkas, bukan pula laporan. Tapi pengertian nomor dua bisa dijadikan acuan sebagai sesuatu yang diberitakan. Risalah sebagai judul novel bisa diartikan sebagai embaran jalan pencarian mengenai cinta yang sejati.

Kedua diksi pada nama tokoh atau penamaan. Sangat menarik nama-nama tokoh novel yang dipilih ini, misal: Prameswari, Mawar, Tresna, Sofia, dan Ameera. Sungguh nama-nama yang cantik yang menjadi impian tokoh aku. Paduan nama asal sangsekerta dan islami membayangkan tokoh yang ideal sebagaimana artinya. Prameswari benar-benar menjadi prameswari dalam hati tokoh yang hampir dalam seluruh hidupnya meraja dalam hatinya. Mawar benar-benar ‘berduri’ dan menyakiti tokoh dengan cucuknya. Tresna begitu indah, tulus, dan suci. Sofia yang lembut namun ternyata tidak bijaksana. Ameera yang bagaikan batu permata dan sangat berharga. Keselarasan nama dan makna atau dikontraskannya makna (sofia) tiada lain berada alam fungsi puitik.

Ketiga pada narasi-narasi yang dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah prosa yang puitis yang mampu mewadahi arti yang banyak dan makna yang dalam, juga mampu membawa pada perenungan pendidikan, sejarah, seni, dan budaya, misalnya tercermin pada narasi kutipan ini. Narasi ini sekaligus merekam  lemahnya ketahanan tradisi lokal menahan serangan-serangan globalisasi.

“April 2010.

Seperti juga tahun-tahun sebelumnya di kotaku, selalu riuh rendah seperti itu. Sebuah karnaval yang meriah digelar sepanjang bulan. Masa lalu dengan harapan-harapan yang jauh menjangkau ke masa depan, menjadi sebuah kemeriahan pada saat ini, dan pesta berjalan selama sebulan penuh.

Antara kekayaan tradisi dari masa lalu dengan segala pahit-manisnya setelah melewati rentang sejarah sangat panjang, digelar lewat acara sebulan penuh. Harapannya bahwa di masa yang akan datang, selalu ada kondisi yang akan terus bisa diperbaiki. Selalu ada harapan yang akan bisa disemai sebagai biji-biji yang akan membawa berkah bagi kehidupan di masa depan.

Simbol tradisi khas Sumedang seperti terbang buhun, kuda renggong, tawarawangsa, berbagai seni helaran, tari Pancawarna, Gandamanah serta Gatotgaca Gandrung, mesti beradu manis serta bernegosiasi dengan simbol-simbol kapitalisme global: Caco Calo, AFC, juga, berbagai merek rokok yang menjadi sponsor acara itu. Bentuk tawar-menawar yang aneh.” (RSC, hal.5)

 Keempat, dialogpun tak kalah puitisnya, coba perhatikan ini.

“Terimakasih atas ketulusan cinta yang engkau berikan bagi seorang lelaki seperti aku. Engkau wanita terhormat, sedangkan aku hanya lelaki jalanan… seorang lelaki dengan wajah yang penuh sayatan luka,” kataku dengan mata yang menerawang saat itu. Aku ingat pada Prameswari, dan aku juga ingat pada sikap dingin serta acuh dari Mawar al-Humaira.

Tresna Ninggalih mengangkat telunjuk di bibir. “Jangan ngomong begitu, aku akan bersamamu selalu, membasuh setiap sayatan luka di wajahmu, dan juga di hatimu.” Dia tersenyum, senyum yang mampu menghapus segala luka dan derita.

Pada dialog di atas terdapat idiom lelaki jalanan, seorang lelaki dengan wajah yang penuh sayatan luka, aku akan selalu bersamamu, membasuh sayatan luka di wajahmu, dan juga hatimu. Sungguh idiom yang penuh arti dan makna. Lelaki jalanan lambang kebebasan yang kadang menendang etika; (pareman kata orang Sunda mah), seorang lelaki dengan wajah yang penuh sayatan luka, idiom yang indah. Dari keindahan yang sulit (difficult beauty) membentuk idiom yang cantik yang melambangkan penderitaan yang tak berkesudahan dan panjang. Selanjutnya idiom aku akan selalu bersamamu, membasuh setiap sayatan luka di wajahmu, dan juga di hatimu sebuah metafora yang membangkitkan imaji.

Dengan demikian pada tegangan bahasa yang puitik, pengarang memang sudah lihai menyusun kata menjadi bahan karyanya. Hal ini bisa ditelusur dari riwayat  kepenulisannya, bahwa pengarang memang mempunyai talenta itu semenjak dari SMP terutama, selain bacaan-bacaan sastranya yang akan mempengaruhi kosa kata dan cara berpikirnya melalui bahasa.

/4/

Tegangan yang inhern pada strukturnya. Struktur novel ini bila mengacu pada Stanton[5] akan terbangun dari tiga poin besar, yaitu: tema, fakta cerita (tokoh dan penokohan, alur, dan setting), dan sarana cerita (judul, gaya bahasa, sudut pandang, dll). Struktur ini sangat penting untuk mendekati satu karya seni. Walaupun pendekatan sastra modern banyak yang sudah melepas struktur dalam kegiatan mengkaji karya, tetapi sejatinya mereka akan kembali pada struktur dalam menjelaskan kajiannya. Diakui atau tidak, disengaja atau tidak, disadari atau tidak, novel adalah sebuah jalinan anasir yang memancarkan tema dan isi tertentu. Dalam memberi makna sesuai dengan pendekatan modern, mereka akan selalu mencari anasir pembentuknya.

Tokoh aku secara struktur sudah memenuhi kriteria sebagai tokoh yang berhasil tetapi menurut pandangan teori nama, penamaannya tidak berhasil. Tokoh aku mengaku berada pada lapis sosial rendah tetapi karena pendidikan berhasil meningkat pada lapis sosial tinggi. Tetapi nama yang disandangkan pada tokoh memperlihatkan nama pada lapis sosial menak, yaitu memakai kusumah. Ini patut diperhitungkan. Karena pada budaya Sunda dan Jawa, nama kusumah tidak sembarang dipakai kecuali ada keturunan. Demikian juga nama Prameswari berasal dari keluarga guru fisika (Dadang Hermawan), nama Mawar al-Humaira berasal dari keluarga biasa di perkotaan, dan itu harus diselaraskan rasionalitasnya atas penamaan-penamaan tersebut (walaupun sekarang banyak nama yang tidak mencerminkan asal-usulnya J).

Pemberian nama bagi orang Islam tentu tidak bisa sembarangan karena pada nama tersimpan doa dan harapan orang tuanya. Selain itu, pada nama pula orang tua dan agama dipertaruhkan (bin, van, dll). Hal ini tentu akan berbeda dengan penamaan yang menganut konsep Shakesphere: what is name? Pada dasarnya baik konsep timur atau barat, nama dipilihkan untuk kebaikan duniawi dan ukhrowi. Demikian juga pada karya sastra, pemberian nama harus bisa ditelusur secara indeksikal sebelum pada simbolitas.

Tokoh aku adalah tokoh yang dinamis, tokoh bulat yang tidak statis, tegar, romantis, dan agak sentimentil (Indra), berkepribadian kuat (Jaya), dan masuk pada kategori cageur-bageur-bener-pinter-singer. Penokohan tokoh yang lain pun mempunyai wataknya amsing-masing dengan keberadaannya, tetapi tokoh Tresna menghilang dan seolah dengan cepat dihilangkan tanpa alasan yang jelas. Tokoh ini tidak diberi kesempatan menerangkan perasaan dan keberadaan dirinya.

Setting yang dipakai dalam novel ini berpindah-pindah dan banyak tempat (kompleks). Satu tempat yang saya kenal secara umum adalah Sumedang dengan segala kondisi fisik dan nonfisiknya yang secara umum memang demikian, sebagaimana kabupaten-kabupaten lainnya di Indonesia yang tergerus modernisasi; berada pada persimpangan kebudayaan. Artefak dan aktivitas budaya Sumedang yang sangat banyak dan kaya nilai, patut dilestarikan dan dilindungi, dan patut mendapat perhatian dari pembaca. Permasalahan bendungan yang tak kunjung usai di Sumedang, menjadi salah satu setting sosial dan setting tempat pada novel ini.

Yang menarik adalah setting waktu, terutama hitungan tahun yang terekam dalam kurun waktu 27 tahun (1985-2012). Peristiwa-peristiwa yang dalam hitungan waktu hampir tiga dasawarsa tersebut harus dijalin dalam satu rangkaian cerita. Tentu ini membutuhkan ketelitian dan kecermatan, serta kemampuan mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan dalam jalinan waktu dan cerita sebagai bagian dari bahan cerita.

Setting ini keutuhannya akan mendukung alur cerita. Alur cerita yang padat akan membentuk struktur yang kuat. Alur cerita novel ini adalah mundur dan maju atau campuran. Cara membangun ceritanya dengan menerangkan (naratif), penundaan (suspense), tegangan, konflik, dan menengok ke belakang (back tracking) cukup berhasil. Akan tetapi, banyak digresi atau cerita yang tak begitu berarti menjadi bagian penceritaan, atau bisa jadi penting bila menyusunnya disesuaikan dengan cerita sebelumnya atau sesudahnya, seperti mengenai permintaan pada Ameera untuk menceritakan pengalamannya naik haji, memang disebut lagi ketika tokoh berdua sedang berada di Gunung Manglayang. Jadi sebenarnya, cerita itu bisa disisipkan di sana dengan cara backtracking.Atau surat untuk Prameswari hal 83 atau Risalah ke-8 secara keseluruhan yang disimpan setelah Risalah 7 yang pada awalnya memulai kembali pencarian atas eksistensi diri aku, tapi pada akhir risalah ngaleok deui menceritakan Prameswari.

Alur novel dibuka dengan dibangunnya tegangan dan penundaan, dan alur berubah mundur pada tahun 2010 dengan memperkenalkan Sofia Putri Maharani yang memasuki kehidupan. Ini menjadi semacam bubuka lalu dibangun lagi backtracking ke tahun 1994 memperkenalkan Mawar al-Humaira yang akan mendampingi aku ke pesta pernikahan gadis yang telah sembilan tahun dicintainya, Riri atau Prameswari. Risalah ke-2 seluruhnya mengenang lagi Prameswari. Risalah ke-4 menceritakan konflik batin yang terus dibuat sedemikian rupa sehingga konflik tersebut semakin meruncing menjadi konflik kejiwaan buat aku yang terpacu memperlihatkan eksistensi dirinya setelah dipermainkan Mawar. Tembok keangkuhan Mawar dilawannya dengan keangkuhan eksistensi pula. Pada Risalah ke-5 terjadi klimaks atas kejiwaan aku yang dihempaskan oleh Tresna pada saat puncak mimpi menjadi nyata (menjadi doktorandus).

Kalau aku tidak kuat menahan emosiku saat itu, ingin aku menjerit sekeras-kerasnya. Menangis sekuat-kuatnya. Namun aku masih bisa mengendalikan diri walau tubuh seperti dibanting dengan palu besi yang begitu berat.

Tubuhku terasa hancur serta remuk-redam. Seluruh tubuhku memar serasa dibacok beribu-ribu golok yang mengkilat serta sangat tajam. Tubuhku terasa bersimbah darah. Aku hampir jatuh tersungkur, aku kesakitan. (RCS, hal 58)

Perhatikan gaya bahasa yang dipakai aku (Indra), begitu dahsyat dan luar biasa. Dengan perumpamaan-perumpamaan seperti yang ditandai dengan dimiringkan, menjadi idiom yang puitis dengan metafor dan hiperbol yang mengerikan saking sakitnya ditinggalkan Tresna sebagai kekasih ketiganya.

Sekarang perhatikan idiom aku pada saat aku mesti menyaksikan Prameswari menikah:

Setelah 3 hari sebelumnya sebuah surat undangan aku terima di kantor Redaksi Koran Kampus atau KORPUS tempat aku menjadi aktivis pers mahasiswa, aku pernah merasakan langit hanya sejengkal di atas kepala.

Pada saat aku duduk, aku tidak merasa menapak di atas bumi, sedangkan perasaanku terguncang hebat, melihat sepasang mempelai berbagi rahasia batin mereka berdua di pelaminan.

Pada saat mereka tersenyum, batinku bergetar kuat seperti terhembus badai dahsyat, walau tidak ada orang yang tahu, dan aku saat itu hanya bisa merasakan perihku sendiri. Satu kondisi yang mesti aku alami serta firasatnya telah aku rasakan beberapa hari sebelum aku secara gentle hadir di pernikahan Prameswari.. Tubuhku terasa bersimbah darah.Aku hampir jatuh tersungkur, aku kesakitan. (RCS, hal 18)

Dengan dua kalimat terakhir yang sama, tetapi dengan idiom yang berbeda dan pemilihan diksi yang jugaberbeda menjadikan kesakitan pada saat melihat Prameswari menikah tidak hebat lagi setelah mendapat idiom baru yang menggambarkan kedahsyatan ditinggalkan Tresna. Ada suara-suara luka yang berbeda tingkatan kesakitannya.

Perhatikan juga idiom yang dipakai aku ketika merasa dipermainkan Mawar yang akhirnya menikah dan diboyong orang lain ke Belanda.

Seperti terkena sambaran petir di siang bolong, tubuhku tiba-tiba saja merasa hangus dan terbakar. Mendadak lemas. Kenapa Mawar al-Humaira tidak menceritakan hal itu kepadaku pada saat aku bertandang ke rumahnya? Aku merasa dikuliti saat itu, kehormatanku sebagai laki-laki terasa hancur-lebur. (RCS hal 64)

 Mana menurut anda yang paling sakit? Jika menurut teks, yang paling sakit tetap ketika ditinggal Tresna.

Hal ini dapat dimengerti karena walau bagaimanapun cinta aku pada Prameswari adalah cinta pertama yang biasanya disebut cinta monyet, cinta yang obsesif tanpa kesadaran seorang manusia dewasa. Kesakitannya karena aku tertolak. Cinta aku pada Mawar ada pada tataran cinta remaja yang dendam dan memasuki ambang kedewasaan awal. Kesakitannya karena dipermainkan jadi lebih merasa terhina. Cinta aku pada Tresna adalah cinta aku yang mulai memasuki kesadaran sebagai manusia dewasa. Cinta yang sudah melampaui konflik cinta monyet dan cinta rumaja. Kesakitannya karena kehilangan. Tapi di lain hal, setelah klimaks inilah, pencarian sesungguhnya pada kesejatian cinta (pada yang Maha Kuasa) dimulai.

Risalah ke-6 merupakan refleksi tapi juga sebagian keputasaasaan aku akan cintanya yang hilang. Risalah ke-7 dan ke-8 menceritakan kegiatan di Radio Gita Malam dan mengingatkan aku pada kenangan Prameswari. Risalah ke-9 dan ke-10 aku mulai melakukan pencarian spriritual dari Sumedang ke Cirebon ke Jakarta (kuliah lagi S2) ke Tasik ke Makassar ke Hongkong dan tempat-tempat lainnya. Pencarian itu sekaligus pencarian belahan jiwanya yang tak kunjung ditemuinya, sampai akhirnya kembali lagi ke Sumedang.

Dari Risalah ke9 sampai dengan ke-11 inilah alur yang digunakan adalah alur maju. Aku akhirnya mengenal satu nama yang rupanya jelita: Sofia Putri Maharani, yang menurutnya mungkin inilah perempuan dengan hati keraton itu. Sayang pada Risalah ke-11 ini ada backtracking yang menjadi digresi lagi yaitu bagian yang menceritakan chatingan dengan Mawar dan suaminya. Ini agak mengganggu menurut saya. Pada risalah ini juga dikenalkan nama baru yang memasuki ruang rindu aku: Ameera dengan teknik backtracking. Bagian ini diteruskan pada Risalah ke-12 yang aku meminta Ameera menuliskan pengalamannya ketika haji. Ini adalah bagian yang sangat menarik, tapi dari segi struktur ini adalah digresi. Risalah ke-13 menceritakan kegiatannya tentang aktivitas proyek Jati Gede. Risalah ke-14, ke-15, ke-16, ke-17,  menceritakan harapan-harapan dan keyakinan diri aku pada Sofia. Risalah ke-18 aku menyinggung dunia lain yang dianggap mempengaruhi kehidupannya. Pada risalah ini disinggung juga setting sosial ketika ramai-ramainya film Innocence of Muslim dan kegiatannya mengajar mahasiswa di kelas Etika.

Risalah ke-19 dan ke-20 selain aku berjuang mendekati Sofia, diceritakan juga hijab dunia gaib yang menutup perjodohan aku. Ternyata awalnya adalah amalan liar tanpa guru, aku membaca surat Jin 41x, yang mengundang banyak jin yang menghalangi kehidupannya, termasuk perjodohannya. Ada jin perempuan bernama Rahmina yang mencintainya. Risalah ke-21 meneruskan cerita yang tertunda dari Risalah ke-1 tentang aku yang akan menemui Sofia. Dengan kegundahannya yang seolah firasat buruk, aku mencari sofia dan ternyata cintanya benar-benar kandas pada perempuan keempat yang memenuhi ruang rindunya. Untungnya sisi kejiwaan dan spiritualitas aku sudah kuat sehingga kepedihan hatinya tidak menggoyahkan emosinya. Aku hanya menggambarkan kepedihan hatinya dengan narasi demikian.

Aku cepat membawa motorku saat itu ke radio, sepanjang siaran, aku tidak kuasa menahan rasa sesak yang menghunjam di dada. Aku putar The Circle of Love dari Samba Sunda, membuat saat-saat siaran bagiku malam itu terasa begitu sunyi serta sepi seperti juga perasaan itu aku rasakan dulu pada masa-masa aku masih remaja dan siaran di radio yang sama. (RCS, hal 340)

Saat hari menjelang sore itu, aku masih diliputi suasana hati yang mendung. Teringat kembali akan kata-kata dari Wildan Gunawan yang menyindir aku dengan mengatakan memiliki teman seorang gay. Di kosanku di sekitar Cinunuk, aku tidak habis pikir dengan apa yang dia katakan. Apa maksudnya? Sepertinya ada sebuah skenario yang telah dia susun untuk menjatuhkan martabatku di hadapan Sofia dan keluarganya. Ah, aku melenguh, aku harus bersabar menerima semuanya. Aku tidak boleh marah, sama sekali. (RCS, hal 341)

Kepedihan dan kesakitan aku seakan raib malah kemarahannya ditekannya dengan kesabarannya. Tingkatan ruhani yang sudah begitu tinggi bila dibandingkan dengan tiga kejadian pertama dengan tiga perempuan yang hilang dari harapannya (nista-maja-utama). Hal lain yang menarik pada risalah ini adalah Ameera, sang permata yang menjadi teman bicara bagi aku dalam menumpahkan beban batin aku.

Tetapi manusia tetap manusia, aku seakan mengerahkan daya terakhirnya untuk bersikeras mengetuk pintu hati Sofia yang sudah tertutup, hingga akhirnya waruganya tidak kuat menahan beban dahsyat jiwanya. Aku ambruk dan demam tinggi. Pada Risalah ke-22 ini, diantara batas sadar dan tidaknya, aku dipertemukan lagi dengan makhluk alam gaib. Ini penting dihadirkan, sebagai tandingan paradoksal antara kekuatan-kelemahan dan membuka luang indeksikal dengan dunia gaib. Karena pada sisi transendental biasanya manusia menemukan sesuatu yang luar biasa. Jadi secara psikologis, bisa diterima logika. Pada akhir risalah ini aku berusaha bangkit dengan menulis. Tulisannya ini pada risalah ke-23 mengantarkannya ke Amerika sebagai pembicara pada satu seminar internasional.

Risalah ke-23 menceritakan aku melepaskan diri dari hijab makhluk alam gaib dengan mengamalkan ijazahan penghapus amalan sebelumnya yang mengundang makhluk-makhluk itu pada kehidupannya. Pada risalah ini pula kedekatannya dengan Ameera dibangunnya. Hingga akhirnya aku bertambat hati pada gadis Sukabumi yang ibarat permata yang bersinar dengan ketinggian kemuliaannya. Dan cintapun mendapat cinta walau jarak pada saat itu menjauhkan mereka. Cinta sejatipun dalam genggamannya. Itulah ending cerita pada Risalah ke-24, selain risalah ini menceritakan keberadaan aku di Amerika. Ending yang sangat manis.

Mengenai sarana cerita, judul sudah dibahas di muka, bahasa pun sudah dibahas di muka. Tentang sudut pandang pengarang, jelas sudut pandang orang pertama, karena pengarang menggunakan kata aku. Kelemahan sudut pandang ini adalah semua kekuatan berpusat pada aku tapi terbatas ketika menceritakan tokoh lain. Hal ini karena jangkauannya terhadap orang lain sejauh pandangan si aku. Aku harus meminjam mata, telinga, dan mulut orang lain ketika ingin menceritakan tokoh lain di luar pandangannya. Keuntungan sudut pandang ini adalah aku leluasa bercerita tentang semua pengalaman dirinya.

Ada yang jadi perhatian dalam pembahasan sarana cerita ini, yaitu humor. Humor memang penting. Alangkah akan menderitanya pembaca bila teks terus tegang atau terus menunda cerita. Apalagi selain isinya yang menceritakan penderitaan dan menguras emosi, ditambah pula tidak tersenyum karena tak ada humor di dalamnya. Humor ini bukan hanya sesuatu yang bisa membuat tersenyum atau tertawa dari teks yang dihadirkan secara eksplisit, tapi juga dari humor yang menghadirkan ironi, tragedi, paradoks, atau dihadirkan melalui gaya bahasa eufemisme atau sarkasme. Humor menjadi lebih jauh makna dan fungsinya.

Banyak humor yang eksplisit atau pun implisit pada teks novel ini. Misalnya saja pada dialog aku dan Ammeere di telepon di bawah ini.

“Ya, saya akan berdoa untuk Akang serta Akang bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.”

“Terimakasih kekasihku.”

Maunya. Cape deh. Sahabat.”

“Kekasih.”

 “Sahabat.” (RCS, hal 400-401)

Dialog ini mengundang senyum kapiasem. Dialog yang memaksa dari seorang aku pada gadis yang menurutnya jauh rentang waktu usia. Kata-kata maunya, cape deh, adalah bahasa khusus anak muda yang mencairkan suasana.

Atau perhatikan narasi pada Risalah ke-24 sebagai risalah pamungkas ini

Aku tersenyum sendiri. Nggak di mana-mana, nggak di Sumedang, di Bandung, di Jakarta atau di Washington, aku terbiasa mandi di toilet tempat berwudlu, kalau di Indonesia itu aku lakukan sebagai penyiasatan cara hidup yang enteng serta ringan. Tidak perlu keluar duit banyak, paling juga ngisi –itupun kalau mau, seribu perak untuk kencleng. Sedangkan di Washington ini, aku memang ingin benar-benar mandi dan merasakan segarnya air yang menjadi sumber rakhmat Allah bagi orang-orang Amerika. (RCS, hal 419)

Narasi ini menerbitkan humor dengan segala kasurtian tentang kebiasaan individual dan budaya toilet atau WC Umum di Indonesia. Imut kanjut. Apalagi bila teringat dan terbayang bau dan rujitnya WC Umum di Indonesia yang mayoritas agamanya Islam, atau WC Umum yang menjadi bagian pendapatan masyarakat, ini sebuah ironi yang paradoksal, walau tentu si aku memilih toilet yang bersih, layak, dan harum untuk keperluan mandinya.

/5/

Tegangan antara mimesis dan kreasi. Pada teks selalu kita dapati ketegangan ini, antara dunia nyata yang kita kenal sehari-hari dan penciptaan baru dengan imaji yang tinggi dan indah, dengan kenyataan sastra: pengalaman yang kita kenal, pengalaman asing, atau pengalaman baru. Hal itu membuat kita selalu berpikir bahwa apa yang terjadi dalam teks, baik puisi, cerpen, novel, atau drama ada dan nyata, dan kita berada di antara teks itu malah menyandingkan diri dengan tokoh. Ketegangan antara mimesis dan kreasi ini yang membuat kepenasaran sejauh mana kita menjajal teks dengan pengetahuan kita. Sehingga jika endingnya kita menebak dan tebakan kita benar kita merasa kecewa dan merasa tidak bergairah lagi membacanya. Berbeda bila endingnya penuh keterkejutan dan benar-benar meleset dari perkiraan kita, maka novel itu akan terus berkesan dan bila dibaca lagi kita tak akan pernah merasa bosan. Gairah itu di antaranya karena dua ketegangan ini.

Mimesis dan kreasi pada novel RCS ini di antaranya bisa digambarkan seperti ini:

No

Mimesis

Kreasi

1

Widodo Abidarda

Aku (Indra Jaya Kusumah)

2

Nama-nama asli tokoh yang dirujuk oleh pengarang

Nama-nama baru yang dicipta oleh pengarang

3

Konteks kepengarangan

Setting, situasi, alur, cara membangun tokoh.

4

Permasalahan dan kenyataan sosial yang melingkupi pengarang

Rekacipta permasalahan dan kenyataan yang menjadi setting sosial penceritaan

5

Keinginan pengarang

Imajinasi yang dibangun

Saya coba menjelaskannya. Secara kenyataan saya mengenal Kang Wi, walau hanya di dunia maya (FB), saya mengenal beliau yang menjadi bagian dari mimbar pendidikan UIN (akademisi). Ketika membaca novelnya, saya menemukan Kang Wi lebih banyak dari yang saya ketahui, tentang pribadinya, aktivitasnya selagi mahasiswa, pekerjaannya, kesukaannya, pribadi-pribadi pengisi hatinya, latar belakang kehidupannya, dan sebagainya. Apakah itu benar-benar terjadi atau tidak, sebenarnya harus sudah dipisahkan ketika pengalaman itu menjadi karya, saya membaca fiksi bukan biografi beliau. Tetapi karena tegangan itu tarik menarik, hal itu terjadi juga.

Nama-nama baru yang dicipta pengarang begitu menarik untuk dimutalaah. Pada mulanya, saya tidak tahu siapa mereka, adakah benar mereka gambaran wujud nyata yang dicintai dan dikenal pengarang. Saya juga tidak peduli kalaupun aya dikieuna. Karena nama itu menjadi kausalitas dengan struktur secara totalitas. Saya juga jatuh cinta pada Ameera, yang dewasa dari umurnya tapi juga kemudaanya mempunyai karakter. Saya juga tidak simpatik pada Mawar dan Sofia. Dan saya kasihan pada Tresna. Rasa-rasa itu saya dapatkan dari pembacaan karya, karena saya tidak mengenal mereka di dunia nyata. Walaupun kemudian saya mendapat bocoran nama-nama asli yang dijadikan acuannya, saya tidak lantas membandingkan mereka dengan nama aslinya. Karena yang saya kenal adalah Prameswari, Mawar, Tresna, Sofia, dan Ameera dalam perjalanan cinta Indra.

Konteks kepengarangan Kang Wi yang saya tahu adalah latar kehidupan jurnalistik dan akademik, juga sepak terjangnya di Sumedang. Selain itu novel pertamanya yang telah lama terbit, memperlihatkan bahwa jejak kepengarangan Kang Wi memang bisa ditelusuri (walaupun saya belum membacanya). Dari konteks tersebut, tidak mengherankan kalau Kang Wi piawai merangkai kata dan cerita yang kemudian disusunnya dalam 24 risalah. Selain itu, Sumedang dalam kenyataan dan Sumedang dalam fiksi tidak jauh berbeda. Saya juga jatuh cinta pada Sumedang. Saya seolah mendapat sesuatu yang baru dari novel RCS tentang Sumedang ini. Bagi saya Sumedang adalah artefak masa silam yang masih bisa dicumbui, karena pasti setiap orang Sunda ingin tahu masa lalu kesundaannya, lebih jauhnya kerajaan Pajajaran. Di Sumedang jejak-jejak itu bisa disaksikan. Oleh karena itu, hati-hatilah membangun Sumedang. Janganlah panggede dan masyarakatnya tergoda industrialisasi dan modernisasi yang bagaikan makhluk nu teu puguh bentuknya; monster itu. Hanya merusak tatanan lahir dan batini masyarakat saja!

Permasalahan dan kenyataan sosial yang menjadi pengalaman pengarang rupanya menjadi bahan tersendiri yang diangkat oleh pengarang dalam karyanya. Pengalamannya yang kaya tak serta merta harus dituangkan semuanya pada karya, pengarang harus memilah dan memilih pengalaman itu menjadi isu dan kenyataan dalam ceritanya. Penderitaan nyatanya atas cinta apakah sama sakit dan lukanya aku dalam RCS, dipercintanya oleh jin perempuan apakah terwakili oleh Rahmina, ataukah hal tersebut bagian dari imajinasi pengarang dalam membelokkan takdir si aku, yang mencari cara menuntaskan kelajangannya dengan menimpakan pada permasalahan pada yang gaib. Atau justru pembaca dibawa ke pemikiran islami akan dunia yang dinafikan oleh kaum sekuler dan paham Marxis bahwa dunia hanya tersusun secara materi semata. Hal-hal itu menjadikan pembaca berada pada tarik ulur tali estetis RCS.

Kebenaran-kebenaran kehidupan secara nyata berbeda dengan kebenaran dalam sastra. Dalam sastra ada tiga macam kebenaran, yaitu: 1) kebenaran yang belum dijalani, 2) kebenaran yang sedang dijalani, dan 3) kebenaran yang akan dijalani. Kebenaran ini bisa dibangun dari unsur-unsurnya, terutama dari permasalahannya. Dari sudut permasalahannya, novel RCS merangkum tiga wilayah hubungan, yaitu dengan: 1) Allah, 2) alam, dan 3) manusia yang menjelaskan: 1) cinta, 2) eksistensi diri, 3) falsafah dan risalah Islam, 4) sosial-politik, 5) kelokalitasan, dan 6) alam gaib. Dari permasalaha ini mencuatkan tema besar yaitu pencarian cinta dalam pertarungan eksistensialisasi diri, tetapi akhirnya kesejatian Islam sebagai rakhmat Sang Maha yang memenangkannya.

Keinginan yang menjadi obsesi atau cita-cita merupakan bahan cerita yang menarik. Pada kenyataannya saya tak tahu jelajah tempat dan negara yang telah dilakukan oleh Kang Wi, tapi dari pembacaan teks saya ikut kembara ke tempat-tempat yang dikunjungi si aku, bahkan sampai ke Amerika ke ujung barat pulau di dunia. Pengalaman yang saya temukan ketika di Belanda semusim, setidaknya menjadi rujukan bagaimana musim di sana. Dan membayangkan badai salju yang luar biasa dan bisa memaklumi kekhawatiran Ameera, karena waktu musim fall saja anginnya bagai badai dengan kekuatan knot yang tinggi.

/6/

Demikianlah penjelasan tiga ketegangan yang menghantarkan pada nilai keindahan RCS, dengan totalitas sebuah karya –walaupun secara teknis dan struktur masih bisa diperbaharui, RSC menawarkan jalan pencarian terutama perihal falsafah kehidupan dan arah eksistensi diri. Dari pembacaan yang panjang saya ingin mengatakan demikian. Pertama, aku (Indra) atau bayangan dari pengarangnya (Kang Widodo Abidarda) adalah PECINTA SEJATI. Kedua, tidak ada keakuan dalam KEAKUANNYA. Ketiga RCS merupakan karya yang memperlihatkan keseimbangan hubungan (Allah, manusia, dan alam semesta).*

Cigugurgirang, 10 Mei 2013 jam 12.00 WIB.

(Paparan ini dipresentasikan di UIN Medio Mei 2013 pada peluncuran RCS karya Widodo Abidarda/Dodo Widada).


[1] Dalam A. Teeuw (1988)

[2] Idem

[3] Idem & Pradopo (1995)

[4] KBBI (1997 cet ke-9)

[5] Isnendes (2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: