KESADARAN RUANG YANG HILANG

Di sebuah pertemuan, budayawan R.H. Hidayat Suryalaga melontarkan beberapa indikator ‘kesadaran’ orang Indonesia, khususnya orang Sunda, yang semakin hari semakin hilang. Di antaranya, beliau mengutip satu istilah dari Ibu Megawati, mantan presiden RI, yaitu hilangnya rasa cinta pada tanah kelahirannya yang beliau sebut sebagai menurunnya kesadaran geo-politik terhadap negeri ini.

Jawa Barat, yang keadaan daerahnya rusak parah dibandingkan dengan propinsi lain atau menurut Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd. –guru besar UPI, kasosok oleh berbagai kepentingan, ternyata kerusakannya diperparah oleh manusianya sendiri. Sebagian manusia Sunda seolah-olah tidak lagi punya kesadaran mencintai tempat, ruang, tanah; Tatar Sunda yang dipijaknya.

Kita tidak pernah peduli, nama Sunda Besar di peta dunia hilang perlahan, kita tidak peduli nama Tatar Sunda tak pernah lagi dipergunakan secara politis karena Jawa Barat sangat cukuplah baginya, kita tidak peduli batasan Tatar Sunda ada dimana dan seperti apa, kita malah bangga dengan menjadi ’daerah penyangga ibukota’ dengan berbagai macam masalahnya, kita tidak peduli nama villa, perumahan, nama gang, dan sebagainya berangsur-angsur menjadi aneh dan asing dan kemudian menjadi akrab dengan telinga kita, sedang nama-nama nyunda menjadi sebaliknya, aneh dan asing. Kita tidak peduli pada air yang mengalir yang terus dipersempit ruang geraknya, maka ketika musim hujan tiba, mereka mengamuk, meluap dan terjadilah banjir. Kita tidak peduli ketika anak-anak kehilangan lahan bermain lalu perlahan permainan dan kakawihan murangkalih dan sejumlah folklor hilang. Juga sederet ketidakpedulian lainnya yang memang kita tidak pernah memperdulikannya.

Kemanakah kesadaran ruang ini? Lalu apakah kesadaran ruang itu?

Kesadaran ruang tiada lain kesadaran historis atau kesadaran konteks, yakni cara memandang diri sehubungan dengan kebudayaan yang menjadi tempat hidup manusianya. Kesadaran itu kini ditengarai menjadi hampa. Manusia Sunda seolah berada dalam keterasingan (teralienasi), yang keterasingannya berwujud ganda. Keterasingan ganda tersebut yaitu manusia Sunda berada dalam kondisi keterasingan historis dan keterasingan eksistensialis.

Keterasingan historis manusia Sunda adalah tidak adanya respon manusia Sunda terhadap bilik tempatnya berdiam. Manusia Sunda kehilangan kepekaan terhadap alam dan lingkungan tempatnya hidup, terhadap kebersihan, terhadap kehijauan dan pentingnya pohonan, terhadap air, terhadap tanah karuhunnya –yang dengan cepat berpindah tangan tanpa melihat latar belakang agama, ras atau budaya si pembelinya, dan lain sebagainya. Keterasingan eksistensialis adalah keterasingan tentang eksistensi dan jati dirinya sebagai manusia Sunda. Hal ini bisa menjadi takdir yang tidak bisa diolak lagi karena tidak mau berusaha dan memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Pada akhirnya, manusia Sunda tidak punya karakter yang khas dan takut memperlihatkan kejatidiriannya.

Mengapakah sampai demikian?

Pustaka lampau menyatakan begitu eratnya hubungan manusia Sunda dengan alam sekitarnya. Ada dua poin penting yang menjelaskan betapa manusia Sunda sadar penuh akan ruang yang dipijaknya. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, manusia Sunda itu berseka atau mengutamakan kebersihan. Kedua, manusia Sunda itu malire atau peduli dan menghargai alam sekitarnya (ruang tempatnya berpijak).

Poin pertama diintrepretasi dari Naskah Sunda Siksa Kanda (ng) Karesian (1518 M). Coba kita kembali renungkan tentang kebersihan yang diperhatikan oleh leluhur kita: caang jalan, linyih pipir, caang buruan yang artinya bersih jalan, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Atau bagaimana keadaan tanah-tanah ’kotor’ seperti sodong, sarongge, cadas gantung, mungkal patngang, catang nunggang, lemah sahar, lemah laki, hunyur, jaryan, kuburan, dsb. tidak pernah sarosopan dengan perumahan, tidak seperti sekarang. Atau perhatikan pola rumah Sunda, cara mandi, cara membuang sampah ke jarian atau dibakar, bukan dibuang sembarangan ke tengah jalan, di parit, di sungai, di kelas, di seputar kampus, dsb. Benar-benar mencerminkan kehidupan yang berseka. Hal yang sangat relevan dan signifikan dengan nilai-nilai keIslaman.

Sekarang, setelah TPA Leuwi Gajah ditutup dan TPA baru dipersiapkan, diinformasikan ada solusi lain guna menghilangkan sampah, diantaranya adalah menimbuni sampah dengan tanah, utamanya sampah plastik, selesaikah permasalahan dan tanah kemudian menjadi bersih? Betapa kasihannya tanah diberati dengan berbagai kotoran yang tidak bisa diurai oleh binatang-binatang pengurai, sedangkan menurut para ahli, sampah plastik tidak membusuk atau hancur lebih dari 5000 tahun, bahkan bisa sampai jutaan tahun. Bagaimana kemudian tanggung jawab manusia Sunda terhadap kehidupan di masa depan? Mengapa warga kota (pituin dan mukimin) menjadi sangat pemalas dalam menghadapi sampah yang ’dihasilkannya’ sendiri?

Sebagai jawabannya adalah bahwa hal-hal di atas dimungkinkan karena manusia Sunda hampa kesadaran ruangnya.

Poin kedua, manusia Sunda itu malire atau menghargai alam sekitarnya. Cara penghargaannya tidak terbatas pada penggunaan nama pohon (kopo kondang, kosambi, haur beuti, dll), nama air/sungai (cibeureun, cibadak, cikeruh, dll), faktor ekologi lainnya dan sosial budaya Sunda yang ditransformasi menjadi nama tempat misalnya, tapi juga usaha pemuliaan terhadap tumbuhan (pohonan), tanah, dan air.

Para pemimpin (raja) Sunda demi kejayaan dan kesejahteraan kerajaannya selalu membangun samida (hutan larangan). Membangun samida atau memuliakan tumbuhan ini adalah tugas penting yang sangat berat, tetapi mereka mampu dan berhasil menjadi pemimpin (raja) Sunda yang besar. Keberhasilan mereka tidak lain karena berhubungan dengan kesadaran ruang, pentingnya memuliakan pohonan demi air, tanah, kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan secara umum.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin Sunda sekarang? Tentu saja usaha-usaha ke arah itu akan selalu disambut baik, karena kita ’mengerti’ betapa pentingnya hal tersebut demi kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Seperti halnya penghijauan kota dengan memperbaharui taman-taman kota; yang akan menjadi jantung sehat kota Bandung, atau penghijauan di taman monumen perjuangan Bandung Lautan Api–Tegallega sehubungan dengan perayaan Konferensi Asia-Afrika tahun 2005. Hal tersebut harus terus dirawat dan dipertahankan keberadaannya karena akan menjadi sejarah yang ditorehkan oleh pemimpin Sunda. Demikian juga dengan program 2010 Indonesia Hijau (khususnya Bandung), semoga menjadi kenyataan.

Hal lain yang menjadi harapan adalah adanya kesadaran baru terhadap kepengkuhan mempertahankan wilayahnya pada para pemimpin Sunda. Sehingga tanah-tanahnya tidak mudah lepas dan hatinya tidak mudah rela tanah karuhunnya diadegan mall-mall, pusat pertokoan, dan bangunan yang tidak jelas manfaatnya, yang menyemarakkan budaya materialistis dan hedonis.

Selanjutnya penghargaan lain terhadap ruang ini adalah bisa dilihat dari idiom dan peribahasa Sunda. Kita mengenal istilah tanah karuhun, bali geusan ngajadi, lembur matuh banjar karang pamidangan, lemah cai, paku sarakan, muncang labuh ka puhu kebo mulih pakandangan, dsb. Hal itu tiada lain pencerminan kesadaran akan rasa cinta dan penghargaan terhadap ruang yang dipijak, ruang yang diperdulikan, dan ruang yang dipertahankan.

Mengapa bangsa ini, khususnya bangsa Sunda, tidak belajar dari bangsa Israel, yang dengan gigihnya mempertahankan bahkan merebut tanah bangsa Palestina, yang menurutnya adalah tanah yang dijanjikan? Perbuatan bangsa Israel itu adalah karena mereka sadar penuh akan ruang yang akan menjadi tatapakan (dasar) dalam membangun kembali bangsanya. Bila ada wacana tandingan tentang hal ini, maka bangsa Indonesia kalah besar dengan bangsa Israel ketika mencintai negaranya.

Ketika Indonesia dengan Malaysia berseteru (lagi) akan pulau yang diperebutkan, mahasiswa tidak demo sehebat ketika BBM naik. Ketika Tatar Sunda di kavling-kavling, kemanakah kepedulian akan paku sarakannya? Padahal kemerdekaan bangsa ini ditebus dengan air mata, keringat, harta, darah, nyawa bahkan agama.

Siapapun tidak mau punya lembur imajinatif, yang hidup dalam nostalgia dan narsisisme. Lembur yang indah, bersih, nyaman, fantastik, yang hidup dalam wacana, nyanyian, buku, dan mitos. Jika demikian adanya, semestinyalah tanah Sunda ini dijelmakan lagi menjadi hadir (kembali) dan ada. Karena kehadiran dan keber-ada-an menyuarakan dirinya dan kesadaran akan ruang kembali dapat dihadirkan.
Mari kembali ke alam, retour a la nature, demikian Rousseau mengajak. Karena menurutnya, moralitas yang tidak dibuat-buat justru ditemukan pada manusia alamiah, manusia yang menghargai ruang tempat berpijak, dalam hal ini manusia Sunda yang teu unggut kalinduan teu gedag kaanginan dan teguh hati (courage) dalam mempertahankan ke-ruang-Sunda-annya

Selain itu, manusia Sunda mesti kembali ingat tiga tataran hubungan dalam agama Islam, yaitu hablumminallah, hablumminannas, dan hablimminal’alam. Hubungan dengan Allah bisa terlihat dari amaliyahnya berhubungan dengan sesama manusia dan alam sekitarnya —termasuk pohonan dan hewan di dalamnya. Begitupun cara manusia Sunda memperlakukan alam dan sesamanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Maha Pencipta, kelak dalam ruang yang hanya berukuran 2 x 1 meter saja!***

Desember 2006
*) Penulis adalah Staf Pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda FPBS, panyajak, pangarang, pemerhati lingkungan, dan pecinta hutan.
*) Dimuat dalam UPI Cronicle Maret 2007

3 comments on “KESADARAN RUANG YANG HILANG

  • Faktor utama terjadinya hal yang demikian adalah keterlenaan “masa lalu” masyarakat tempatan, hal ini tak jauh berbeda dengan kondidi tanah “Deli” (sekarang lebih dikenal dengan Medan), Dalam salah satu syair nyanyian masyarakat Sunda ada disebutkan “….. tanah sunda tanah subur ……. tongkatpun bisa jadi tanaman ….” (kalau gak salah), tak jauh berbeda dengan masyakarat melayu secara umum. Ada anekdot dalam masyarakat Melayu yg mengatakan “Kojo seribu, tak kojo seibu limoatus” (kerja dapat seribu, nggak kerja dapat seribu lima ratus). Memang, jaman dahulu sewaktu tanah dan laut Melayu masih dimiliki oleh masyarakat Melayu, walaupun mereka hanya bekerja satu hari dalam seminggu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil tangkapan laut yang berlimpah. Namun sekarang apa yang terjadi? bekerja seminggu kelaut hanya untuk penghidupan sehari saja, untuk enam hari lainnya ya terpaksa ber”hutang”, dan digadaikanlah apa yng dimikili termasuk “rumahnya”.
    Yang terjadi berikutnya adalah berpindah tangannya lahan-lahan milik masyarakat asli Deli ke pihak lain sehingga saat ini Deli (Medan) tidak lebih identik lagi dengan Melayu tapi dengan “Batak” dan “China” yg lebih gigih dalam hidup mengingat latar belakang kerasnya kehidupan di daerah asalnya.
    Sekarang ini berapa persenkan tanah Sunda yang masih di miliki oleh masyarakat Sunda sendiri khususnya di daerah potensial?, Cukup banyak orang di luar Jawa Barat yang memiki lahan dan properti di tanah Sunda, bahkan saya sendiripun berkeinginan memiliki properti di tanah Sunda. Kenapa?, mengingat tanah Sunda adalah “tanah yang indah”. Semoga masyarakat Sunda dapat memanfaatkan dan menjaga keindahan tanah leluhurnya ini untuk kelangsungan ke anak cucunya, jangan terlindas dengan arus persaingan dengan masyarakat pendatang, dan ‘JANGAN SALAHKAN KAMI YANG JUGA INGIN MEMILIKI KEINDAHAN TANAH SUNDA”.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: