KEINDAHAN DAN KEKUATAN PATREM

Chyé Rétty Isnéndés

Tulisan ini dimuat dalam TRIBUN JABAR, Sabtu 6 Nopember 2010

(Menyambut Ulang Tahun PATREM yang ke-28 Tahun)
 Citraresmi neuteup seukeut pakarang 
laju sasauran ka para mojang 
: Najan pangawak cawéné 
dia kabéh montong lawa-lewé 
Pageuhkeun tangtung 
geura cabut patrem tina gelung 
Hayu milu jurit tandang
palias ngandarjangjang! 
Ahung! Ahung! Ahung!...

(“Sang Mokténg Bubat”-puisi karya Chyé Rétty Isnéndés 
dalam bukunya Nu Nyusuk dina Sukma (2010))

Tahun 1993 saya mulai kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda. Dari tahun itu pula saya mengenal kata ‘patrem’ dari perbincangan kakak-kakak tingkat, terutama mahasiswi yang juga penulis dan pengarang, di antaranya Teh Risnawati, Teh Imas Rohilah, dan Teh Dian Ratnaningsih.

Saya mulai bertanya-tanya apa sih patrem itu dan saya menemukan jawaban sementara, bahwa patrem itu semacam cucuk gelung. Di Sukabumi saya hanya kenal kata cucuk gelung saja atau aspel, patrem tidak saya kenali. Tapi selain itu, saya menemukan jawaban ‘aneh’ bahwa patrem adalah senjatanya putri Sunda yang labuh pati di Palagan Bubat.

Ketika saya membaca karya sastra Sunda puisi dan prosa, saya menemukan juga kata itu, terlebih dalam prosa. Dalam puisinya Sayudi Lalaki di Tegal Pati, (1963) secara eksplisit tidak menyebut ‘patrem’. Sayudi hanya menyebutnya ‘wangkingan’. Walaupun begitu, saya yakin bahwa putri Sunda itu menggunakan patrem untuk membela kehormatannya. Demikian saya kutip:

 
Dilagar wangkinganana 
Dibebener kana angen 
Dilelebah kana manah 
Rep sarerep sirep 
Wangkingan malang na raga 
Tjitraresmi labuh pati 
…

Lalu pada roman sejarahnya Yoseph Iskandar Perang Bubat (1988) teka-teki patrem itu semakin menguak dan jelas. Diceritakan bahwa Pamanda Dewi

Citraresmi, Mangkubumi Bunisora Suradipati membekali keponakannya dengan sebuah patrem sebelum keponakannya tersebut pergi menjemput janji.

“Geus dibahanan?” ceuk prabu Maharaja Linggabuana.

“Ari jampe mah geus ti mangkukna, ngan ieu hayang mikeun ieu…” ceuk Mangkubumi Bunisora Suradipati, bari ngusiwel ka jeroeun jubah bodasna, ngaluarkeun patrem.

“Ambuing, alus temen Paman? Tina perak ieu teh?” ceuk Putri Citraresmi bari ngarebut patrem tina leungeun pamanna.

“Gagangna mah enya tina perak, ngan seuseukeutna tina waja putih,” tembal Mangkubumi Bunisora Suradipati…

Dari kutipan di atas dijelaskan bahwa patrem dalam kasus Putri Citraresmi adalah senjata (kecil) yang juga bisa dipakai sebagai cucuk gelung. Hal ini berbeda dengan kasus Putri Purnamasari dalam cerpen Saleh Danasasmita Ruhak Pajajaran (1966), patrem yang dipakai putri tersebut tetap merupakan cucuk gelung yang seuseukeut-nya bisa dipakai senjata yang bisa menusuk jantung bajo atau bajak laut yang akan menghinanya.

Pengertian patrem ditegaskan lagi pada kamus basa Sunda. Bahwa ternyata kata ‘patrem’ berasal dari bahasa Tamil yang artinya sejenis sekin (sikkin, b. Arab) atau sejenis pisau kecil yang ujungnya agak melengkung seperti congkrang dan dibawa oleh para perempuan Sunda jaman dahulu yang berguna untuk membela diri.

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa pengertian patrem bermacam-macam sesuai makna yang dimuatkannya. Tetapi bisa disimpulkan bahwa patrem adalah: 1) bisa berupa cucuk gelung biasa dengan fungsi ganda, sarana estetis dan sarana pertahanan diri dan 2) bisa berupa pisau kecil yang dibuat sedemikian rupa yang berfungsi ganda pula, sarana pertahanan diri dan sarana estetis. Fungsi mana yang dipakai menjadi titik tekan kata ‘patrem’ yang dimaksud. Tetapi kedua-duanya menjadi identitas patrem dan perempuan itu sendiri.

Saking takjubnya pada patrem dan Citraresmi, setelah membaca roman sejarahnya Yoseph Iskandar, saya membuat puisi ‘Sang Mokteng Bubat’ (1995), roman sejarahnya Yoseph Iskandar menjadi hipogram bagi karya saya. Puisinya ada pada buku terbaru saya Nu Nyusuk dina Sukma yang digelar hari ini di YPK dan akan dilounching tanggal 2 Desember mendatang.

Nah, setelah itu, saya kemudian memperhatikan lagi paramahasiswi senior yang menjadi kakak-kakak tingkat saya tersebut. Mengapa mereka suka sekali membicarakan patrem sebagai tempat berkumpul dan menjadi ekspresi identitas mereka? Apakah arti patrem yang itu?

Teh Risnawati menjelaskan bahwa patrem ini adalah PATREM, sebuah organisasi penulis perempuan, yang pada waktu itu masih diketuai oleh Ibu Tini Kartini. Dalam benak saya apakah saya akan menjadi anggota PATREM? Tapi katanya untuk menjadi anggota PATREM syaratnya cukup berat, yaitu harus sudah dimuat carponnya sekira 20 carpon, maka akan diakui sebagai anggota PATREM. Wah! Saya baru mempublikasikan tulisan di Mangle tahun 1994. Akhirnya saya menjadi tidak berminat dan melupakan menjadi anggota PATREM. Di tengah perkuliahan, ternyata saya terus menulis carpon dan dipublikasikan oleh Mangle.

Tahun 1996 saya diundang oleh PPSS (Paguyuban Pangarang Sastra Sunda) untuk bergabung. Eh, tahun 1997 saya diundang juga oleh Bu Tini untuk ikut serta mengaktifkan PATREM. Alhamdulillah. Pada tahun itu juga saya mencermati bahwa aktivitas PATREM lebih lambat bila dibandingkan dengan paguyuban pangarang lainnya. Hal ini dikarenakan para pengurusnya adalah ibu-ibu yang aktivitasnya dan sepak terjangnya terhalang oleh kegiatan rumah tangga. Teteh-teteh mahasiswi juga sudah pada lulus dari IKIP dan sibuk dengan kegiatannya mencari pengalaman baru (bekerja). Walaupun demikian, para ibu atau para pengarang perempuan yang bergabung dalam PATREM tersebut tetap membina diri, membuat kesibukan-kesibukan, dan menggelar kegiatan-kegiatan kesastraan.

Tahun 1998 saya dipercaya menjadi Sekretaris Umum mendampingi Bu Naneng Daningsih (istrinya Pa Saini KM) yang pada waktu itu menjabat Ketua Umum. Saya mendampingi beliau hingga dua periode (1998-2000, 2000-2002). Ketika saya kuliah lagi di Yogyakarta, saya tidak mengetahui pasti perkembangan PATREM. Tahun 2006, sepulang dari Yogyakarta, saya dipercaya lagi menjadi Sekretaris Umum mendampingi Bu Aam Amilia yang menjadi Ketua Umum, hingga sekarang 2010, dua periode juga (2006-2008, 2008-2010).

Hasil bergaul dengan karya sastra dan sastrawati Sunda (yang banyak berkumpul dalam PATREM), saya angkat menjadi bahan tesis. Dalam tesis saya, disusun angkatan kepengarangan sastrawati Sunda. Penulis perempuan atau sastrawati yang tidak berjumlah 50 orang itu terangkum dalam tiga angkatan. Yaitu sebagai berikut.

Angkatan 1950-1960, pengarang angkatan ini diwakili oleh Suwarsih Djojopuspito dan Suratmi Sudir. Angkatan 1960-1980, pengarang-pengarang angkatan ini adalah: Tini Kartini, Tien Wirahadikusumah, Atie W.R., Aam Amilia, Hana RS, Yati M. Wihardja, Damarjanti, Ningrum Djulaeha, Etty S, Sukaesih Sastrini, Ami Raksanagara, Naneng Daningsih, En Henri Sinaga, Yooke Tjuparmah, Tetty Suharti, Etti RS, Dyah Padmini, Holisoh ME, dll. Angkatan 1980-2000, pengarang-pengarang angkatan ini adalah: Tetti Hodijah, Nita Widiati Efsa, Risnawati, Imas Rohilah, Dian Ratnaningsih, Elis Ernawati, Chye Retty Isnendes, Pipiet Senja, Rin Candraresmi, dll. (Mungkin nanti bisa ditambah dengan angkatan seterusnya yang kelihatannya telah muncul nama-nama penulis perempuan yang baru, semisal: Ruhaliah, Senny ‘Suzana’, Tevi Sonika, Tika Yuanita, Lismanah, Nunung Saadah, atau Onnok Rahmawati.)

Setelah bergaul dengan PATREM juga, saya menghubungkan pemaknaan patrem dengan PATREM. Dalama anggaran dasar, kata tersebut tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi menurut mantan ketua Ibu Ami Raksanagara, bahwa PATREM ini memang mengadopsi makna patrem secara estetis dan secara senjata serta mengaitkannya dengan peristiwa sejarah Palagan Bubat. Kini, dalam ART dicantumkan bahwa PATREM adalah paguyuban sastrawati Sunda dengan memiliki lambang sanggul wanita Sunda yang menggunakan tusuk konde patrem, yang berarti kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan. Patrem menjadi simbol paguyuban sastrawati Sunda PATREM yang diharapkan menjadi metamorfosis kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan yang ditorehkan melalui karya tulis sastra Sunda.

Hari Kamis tanggal 4 Nopember 2010 adalah ulang tahun PATREM yang ke-28 tahun. Hari ini tanggal 6 Nopember 2010 PATREM bekerja sama dengan PASI (PASUNDAN ISTRI) pusat menggelar Seminar Nasional sehari di gedung YPK. Menurut Dra. Hj. Tetti Khodijah, pengurus PATREM yang juga staf Museum Sribaduga, seminar akan menyajikan topik Wanoja, Sastra, dan Tatakrama dengan sasaran anggota PATREM, anggota PASI, dan mahasiswa. Ketua PASI Pusat yang juga pembina PATREM, Ibu Dra. Hj. Popong Otje Djundjunan mengharapkan kerja sama antara PATREM dan PASI terus berlangsung dengan menggelar kegiatan-kegiatan sastra dan keperempuanan.

Patrem sebagai produk budaya yang tercatat pada sejarah dan sastra Sunda kini bertransformasi pada organisasi perempuan, baik organisasi sastra maupun organisasi sosial dan politik. Kekuatannya bertransformasi pada kegiatan-kegiatan yang digulirkan para perempuan tangguh masa kini. Semoga keindahan dan kekuatan terus menyertai PATREM sehingga martabat perempuan dalam bidang penulisan karya sastra diabadikan zaman. Amiin.***

Cigugurgirang, 02 November 2010

4 comments on “KEINDAHAN DAN KEKUATAN PATREM

  • Langkung tipayun abdi bade ngadugikeun yen abi teh salasahiji fans Ibu. Ningali kana prestasi, karya, sraeng sagalana.. ieu karya nu dijudulan “keindahan dan kekuatan patrem” teh mangrupa genre atawa model karya nu ku abdi nuju diteuleuman. dina eta karya katawis kumaha jembarna pangaweruh panulis, sarta sigana geus sagala nyarampak referensina teh. ari keur panulis nu masih diajar siga kuring mah, hal nu panghesena teh nya eta referensina tea, da geuning ari ngandelkeun pangaweruh mah can nyumponan. jadi rarasaan teh asa ku hese jeung ku teu nyarampak eta refrensi nu dibutuhkeun teh. salianti eta, katawis oge kratifna panulis ku cara ngangkat hiji hal nu geus lumrah dipaknyaho (patrem), tapi diulik nyosok jero nepikeun ka jadi hiji elmu anyar nu kacida matak hook nu maca. geuning hal nu salila ieu dianggapna biasa teh, neundeun hiji ajen nu kacida luhungna. Nuhun Bu elmu-elmuna.

  • Syair Sunda:
    ditulis ku Mandalajati NIskala kangge Chye Retty Isnendes

    ♥JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung Ahuuung Ahuuung Aheeeng.

    ═════════════════

    ♥WASPADA PERMANA TINGGAL♥
    Kalam geus kacutat di Lahuta Maha Pada.
    Baris jadi jumadi ngajadi.
    Kalam baris ka alaman.

    Saestuna carita geus nepi ka tungtung Uga.
    Siliwangi baris nitis panceg dina atma sapangadeg.

    Lir kukuh batu satangtung
    Moal lanca linci luncat mulang leupas tina tali gadang.

    Saraksian…!
    Lain ukur musuh nu baris nutuh.
    Tapi dulur nu lalinglung guyub baris ngarurug.
    Keun teu nanaon urang sabaran.

    Titisan siliwangi teu hariwang teu salempang.
    Sabab geus panggis reujeung manunggaling diri.
    Nu gumulung ngabalung tunggal di Nu Kawasa.

    Saha wae nu rek sadar nyarambat Sunda?
    Atanapi kapaksa?
    Teu jadi masalah.

    Sok sanajan tinggal sorangan teu geumpeur mere pepeling.
    Sabab titisan Siliwangi saeutik ge mahi.

    Mangka tong coba-coba deleka.
    Isik kudil jail kaniyaya.
    Bisi carilaka ku pamolah sorangan.

    Mun rek bareng.
    Hayu guyub.
    Kum.
    Lawung ka Ahung sabale gandrung.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: