IMAJINERASI RADEN DEWI SARTIKA

 

“Ibu, bagaimana khabarnya?”
“Alhamdulillah, Nung, Ibu sehat dan bahagia.”
“Bahagia, bukankah Ibu sakit di pengungsian?”
“Ibu bahagia sudah menuntaskan tugas dan cita-cita Ibu” (matanya menerawang)
“Ibu tidak marah kan saya panggil Ibu” (Ibu menggeleng dan tersenyum)
“Ibu, bahagia jugakah melihat hasil jerih payah Ibu, sekarang?”
(Matanya meredup, beliau menggeleng)
“Entahlah.”
“Har? Kenapa Ibu?”

“Waktu itu Ibu mencermati dunia, betapa perempuan tak mendapat pendidikan. Padahal perempuan yang kelak menjadi pendamping suami harus cerdas mengelola rumah tangga. Padahal perempuan yang akan menjadi ibu harus cerdas mengurus anak-anaknya.

Perempuan harus utama dalam mengurus benih-benih generasi dan harus utama membantu suaminya melakukan tugasnya sebagai pemimpin keluarga dan khalifah di muka bumi. Karena dari keluargalah, sebuah negara bermula. Rusak negaranya dapat dilihat dari rusak rumah tangganya. Itu yang dalam pikiran waktu itu.

Karena itulah Ibu bersikeras membangun sekolah perempuan untuk memberikan pendidikan keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas perempuan. Ibupun belajar membatik di Jawa selama dua bulan demi supaya perempuan bisa mengembangkan kreativitasnya dalam berbusana dan demi kepantasannya sebagai perempuan yang menyenangkan untuk suami dan anak-anaknya. Karena Ibu tahu, perempuan akan merasa dihargai bila dirinya menjalankan fungsinya sebagai perempuan, istri, dan ibu.”

“Jadi, sekarang Ibu bahagia melihat perempuan dapat bekerja dengan keterampilannya di muka umum?”
“Tidak, Nung. Ibu merasa memang perempuan sudah menjadi dirinya sendiri tetapi meninggalkan suami dan anak-anaknya. Mereka bekerja di luar mencari nafkah sedang tugas utamanya menjadi tugas sambilan.”
“Ibu, jangan salahkan kami. Pemerintah menganjurkan kami sekolah. Pemerintah justru menyediakan ruang yang sama bagi kami dengan laki-laki, bahkan di bidang politik.”
“Ya Ibu melihatnya dari sini. Tapi, tahukah Nung? Ibu tidak melihat kebahagiaan sejati pada perempuan-perempuan itu…
“Seperti itukah, ibu?”
“Ya. Bila perempuan tidak bahagia, bagaimana bisa mereka menggembirakan dan membahagiakan suami dan anak-anaknya?, lalu bagaimana keluarga akan bahagia? Setelah itu bagaimana negara akan bahagia? Kalau seperti ini jadinya, bagaimana saya bisa bahagia?”

Aku tercenung, termangu, bingung. Betapa benarnya engkau, Ibu.
===========

Memperingati hari lahir Raden Dewi Sartika, 4 Desember 1884.

%d blogger menyukai ini: