IDENTITAS LOKAL DALAM PUSARAN GLOBAL

Chye Retty Isnendes*

I

KEPADA SEORANG KAWAN

: Marek Ave

 

Diam-diam aku belajar cinta dan benci padamu

Cinta dan benci apalah arti hanya warna yang bedakan

Cinta putih pada negeriku dan benci hitam pada negeriku

Semua berbunga di katamu

Semua mempesona di tamanmu

 

“Jangan percaya teori Barat!” menjadi dekonstruksi dari

seorang oriental sepertimu. Dan aku senang dan aku bingung

“Temukan teorimu sendiri!” bagai petuah yang harus ku takzimi

Tapi aku merangkai saja, karena di Indonesia orang gila teori

 

Sepertinya aku temukan juga Multatuli padamu

Tapi engkau bukan dia. Engkau bohemian yang gemar

membaca dan tujug bahasa kau genggam di tangan

Ayolah jadikan pekarang, Kawan!

 

Ya, kita minum teh sore, lalu makan malam dan ngobrol

larut. Selalu kita lakukan. Kau menjadi Sokrates

Mereka menjadi Plato. Tapi aku tidak! Aku menjadi pejuang

saja seperti kakekku yang pernah dipenjara leluhur negeri ini

Lalu segala ideologi bukan apa-apa bagiku

 

Nieuwe Rijn NL. 28 Nop ‘11

 

Catatan:

Oksidental: seorang orien (Timur) yang memandang tinggi kebudayaan Barat

Oriental: seorang oksiden (Barat) yang memandang eksotisme kebudayaan Timur

II

Ketika saya buka wikipedia untuk mencari tahu yang sesungguhnya tentang konsep globalisasi, disebutkan seperti ini bahwa globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit (www.wikipedia.com). Tentu saja bukan hanya itu pengertian dari globalisasi tetapi masih panjang keterangan tentangnya; sejarah; ciri-ciri; teori; reaksi; dampak; termasuk dijelaskannya globalisasi perekonomian dan budaya.

Lalu saya berpikir tentang lawan kata globalisasi. Apa ya? Saya berpikir tentulah lokalisasi. Tetapi di luar dugaan, saya mendapati konsep yang sangat-sangat negatif, yakni tempat penampungan wanita penghibur dan WTS. Selain itu, dijelaskan pula tempat-tempat penampungan yang dianggap ‘melegenda’ di Indonesia.

Sungguh globalisasi tak bisa dilawankan dengan lokalisasi. Padahal secara bahasa Indonesia, hal itu sudah tepat. Pantas karena itu para akademisi dan praktisi bila membicarakan hal yang dianggap kecil dari segi ruang atau sektoral selalu menggunakan gabungan kata untuk kata lokal ini: budaya lokal, nilai-nilai lokal, kearifan lokal, atau yang dianggap lebih keren etnisitas, budaya etnik, dsb.

Tampak begitu kecil dan tak berdaya kata lokal ini bila dilawankan dengan kata globalisasi yang universal dan jamiyah. Tetapi tampaknya kita lupa bahwa menjadi global itu tak mungkin bila tak ada lokal-lokal yang menjadi bagiannya. Selain itu, kita pun lupa bahwa yang disebut global dan atau globalisasi ini sebenarnya hanya bagian dari bagian yang lebih besar dari satu pengaruh negara atau apapun yang menguasai dunia. Apa yang kemudian membawa pengaruh yang demikian besar dan melanda dunia lainnya selalu datang dari wilayah lokal; suku bangsa atau negara.

Bila internasionalisasi tampak begitu kongkret tentang wilayah negara, maka globalisasi sangat absurd dan abstrak. Apalagi tentang globalisasi kebudayaan. Kebudayaan walaupun bisa diidentifikasi dari unsur-unsurnya, akan tetapi kadang sukar dijelaskan batasan-batasannya, semua menjadi samar dan berjalin berkelindan dengan eratnya.

Yang terlihat tiba-tiba adalah dampaknya yang secara umum, sama dengan lokasisasi, negatif. Hal yang paling dikhawatirkan oleh kaum konsevatif dari dampak globalisasi ini adalah hilangnya nilai-nilai positif dari budaya lokal yang nantinya akan berdampak pada JATI DIRI BANGSA, walaupun sebenarnya ada banyak keuntungan positif lain dari globalisasi ini.

Memang pada globalisasi ini beragam sikap muncul dalam menghadapinya. Selain kaum konservatif –kaum yang menganut aliran ini bisa saja mereka yang sudah setengah baya dan telah mengalami asam garam kehidupan, atau kaum muda yang menyadari tercerabutnya jati diri– yang benar-benar merasa khawatir, ada juga kaum liberal dan radikal. Kaum liberal walaupun mereka membuka diri dan menerima globalisasi dengan senang hati dan berpikir positif, tapi juga mereka berhati-hati atas dampak-dampak yang terjadi karenanya. Agak berbeda dengan kaum ketiga yaitu kaum radikal yang sangat membuka diri dan menghendaki perubahan menyeluruh secara struktur dan fundamental ini, mereka akan senang hati bahkan cenderung berprilaku hedonis dan bebas serta memanfaatkan seluas-luasnya globalisasi ini.

III

Telah banyak tulisan mengenai kekhawatiran ini. Telah banyak pula bukti dihadirkan dari interaksi budaya global ini, tetapi pemerintah sepertinya menutup mata dan bahka membuka seluas-luasnya bagi kehidupan globalisasi. Memang bangsa Indonesia tidak bisa menutup diri –atau kilangbara seperti Jepang menerapkan politik isolasi untuk memupuk diri secara politik dan ilmu pengetahuan, tetapi setidaknya harus mampu membendung arus atau bahkan secara tegas menghentikan arus yang benar-benar dianggap negatif dan merusak budaya masyarakatnya.

Salah satu cara dan usaha yang dilakukan anak bangsa mensiasati pengaruh globalisasi adalah mengkaji kembali tradisi lisan Nusantara. Para pengkaji yang sebagian besar –dari yang kecil, karena kajian ini sangat langka diangkat secara akademis– berada dalam naungan Asosiasi Tradisi Lisan, yang diketuai oleh Ibu Dr. Pudentia MPSS dari UI berusaha kembali menggali dan mengembangkan potensi tradisi lisan melalui penelitian yang terstruktur dan berkelanjutan.

Tradisi lisan adalah sumber kekuatan kultural etnisitas bangsa Indonesia di tengah hiruk pikuk globalisasi yang dipercaya mematikan jati diri bangsa. Bagaimana tidak ketika mereka yang datang dari dunia global mencari, menggali, dan memanen budaya lokal satu bangsa –terutama Indonesia, masyarakat Indonesia malah sibuk menyambut budaya luar yang dianggapnya megah, hebat, dan cool! Sembari melupakan dan mengelap lalu membuang jauh tradisinya!Sungguh paradoksal dan ironis!

Tradisi lisan juga adalah khazanah sumber pembentukan identitas dan karakter komunitas pemiliknya, atau identitas dan karakter bangsa ini. Tradisi lisan juga merupakan khazanah berbagai  pengetahuan tradisional seperti halnya kearifan lokal, pengetahuan tradisional, sistem kognitif, berbagai seni tradisi, sejarah, hukum, adat, pengobatan, sistem kepercayaan dan religi, dll.

Tradisi lisan Nusantara yang hidup pada etnis atau suku bangsa di Indonesia di tengah maraknya arus globalisasi ditengarai semakin hari semakin hilang sejalan dengan meninggalnya empunya tradisi atau pelaku tradisi di masyarakat. Pewarisan tradisi dinilai ada tetapi sangat kurang, karena generasi  muda enggan mempelajarinya dan dianggap tidak menghasilkan uang (tidak dianggap komoditi). Dengan demikian pewarisan alamiah tidak sejalan dengan cepatnya perubahan kebudayaan, dan ini sangat riskan bagi etnisitas di tengah arus globalisasi.

Para pengkaji tradisi lisan yang dianggap sebagai kajian langka, tahun 2008 mendapat angin segar dari pemerintah –setelah dari tahun 1993 berjuang untuk Tradisi Lisan. DIKTI memberi beasiswa BPPS-KTL untuk stata S2 dan S3, juga program sandwich untuk para dosen S3 di lima perguruan tinggi (USU, UI, UPI, UGM, UNUD). Program ini berjalan dari tahun 2009 dan direncanakan s.d tahun 2014 (5 tahun). Sampai saat ini, program ini memasuki angkatan ke-3.

IV

Pengalaman budaya dari kegiatan sandwich di Belanda, merupakan pengalaman berharga bagi saya. Seorang pelaku tradisi yang menunggang tradisi sampai di negara lain, memang telah banyak dijumpai, bahkan secara umum demikian pada tataran seni dan kesenian. Melalui program ini, saya menjadi semakin menyadari bahwa setiap lokal mempunyai keunikan masing-masing dan itu adalah kenikmatan yang luar biasa diberikan Tuhan pada manusia yang diciptakanNYA berbangsa-bangsa.

Belanda yang merupakan bagian dari komunitas Eropa secara global, selain interaksinya dengan Indonesia telah terjalin melalui perdagangan lalu kemudian imperialisme tetapi selalu mengagumi Indonesia. Walau dengan kacamata penjajahannya yang belum hilang sepenuhnya pada sebagian penduduknya yang mengetahui sejarah imperiumnya, tetapi sebagian generasi mudanya pada saat ini dianggap hendak melepaskan diri dari sejarah lama. Mereka menganggap dirinya Eropa yang punya hak menikmati kehidupan Eropa murni tanpa melibatkan orang-orang Asia dari negeri antah berantah di belahan timur jauh (Indonesia) walaupun sejarah mengenai Indonesia diajarkan sejak SD di sana.

Tetapi dari pengalaman selama tiga bulan, rupanya orang Belanda generasi tua, setengah baya, dan muda tetap mendamba melihat negeri penuh cahaya di garis katulistiwa. Pada kondisi seperti itu, ketika saling berinteraksi dan saling berkepentingan, budaya adalah jembatan yang sangat bagus. Dan dalam kondisi seperti itu, orientalisme hidup dan berkembang membawa pandangan baru pada sebuah negeri yang selalu rendah diri sebagai negara inlander, kuli, dan lokal! Padahal lokalitas inilah yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang dihargai dunia! Bukan pada ipteks dan sainsnya yang modern, ekonominya, apalagi politiknya!

Lokalitas inipun yang dikaji oleh mereka. Mereka sangat tertarik pada kajian-kajian budaya Indonesia. Hal ini bukan lagi rahasia bahkan sepertinya sudah menjadi watek, bahwa orang Belanda adalah pengumpul benda budaya (artefak). Mereka menyadari bahwa menaklukan satu bangsa harus dengan politik perang yang halus selain sisi kekuatan militer. Super struktur adalah rahasia ketahanan sebuah bangsa. Maka dari ihwal inilah jiwa-jiwa bangsa Nusantara –yang akhirnya menjadi Indonesia, disiasati.

Bahasa, sastra, benda budaya diambilnya baik secara baik-baik maupun paksa. Naskah-naskah Nusantara ada pada KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dan Universitas Leiden. Tak terhitung naskah Nusantara di Leiden, juga benda-benda budaya yang tersimpan di musieum-musieum di sana, khususnya Musium Volkenkunde dan Musium Tropen. Kekayaan batini inilah yang sangat menarik hasrat penelitian, perdagangan, dan kekuasaan orang Belanda hingga sampai sekarang orang-orang Indonesia kehilangan harta berharganya, dan hanya bisa meminjam dan membaca di sana. Sungguh kehilangan yang luar biasa!

Tapi, apa yang terjadi dengan generasi muda negara ini? Kita sendiri yang memiliki keunikan budaya lokal, tradisi lisan yang hebat, semangat pemertahanan diri, membuang, mengikis, dan menggantinya dengan budaya-budaya (terutama budaya materialism) baru, dan masyarakat Indonesia seperti laron melihat pijar cahaya, yang padahal cahaya itu akan mematikannya.

Jika budaya saja kita ganti dengan alasan hendak sejajar dengan bangsa lain, justu bukan martabat yang akan kita dapat tetapi kehancuran identitas. Itu sebuah keniscayaan. Kesejajaran bangsa ini sebagai sebuah identitas di tengah pusaran interaksi global, ditampilkan oleh budayanya yang unik di tengah uniknya bangsa-bangsa lain.

V

Ketika kami tampil di Universitas Leiden dengan menyajikan performa tradisi lisan, para profesor dan mahasiswa di universitas tersebut seolah melihat oase di tengah sahara. Padahal yang disajikan adalah materi tradisi yang serta merta, tak ada persiapan di tanah air.

Waktu itu yang menjadi andalan adalah tarian (Bali dan Sunda), tapi karena kami mengusung tradisi lisan, maka harus ada performa tentang itu. Maka disusunlah konsep tampilan: Kentrung dari Jawa Timur, kawih dari tatar Sunda, lagu kematian dari tanah Karo, nyanyian kematian dari Tanah Toraya, syair Ambon manise, nyanyian rakyat dari Tanah Flores, dan pidato lisan tanah Batak.

Tapi pada saatnya, saya tak mungkin tampil 2x, selain waktunya sangat singkat juga repot mengganti pakaian, maka jadilah saya menari (Jaipongan) saja tidak menampilkan kawih. Dengan jaipongan (yang apa adanya itu), tepuk tangan meriah selama 15 detik seru membahana –sebelumnya saya menari jaipongan juga di Amsterdam di Pasar Kliling Suriname, sambutannya pun luar biasa. Setelah menari dan tampil, kami semua disambut dengan antusiasme pertanyaan dan pujian.

Dengan jaipongan itu pula kemudian saya memberikan workshop menari jaipongan pada mahasiswa Tari Universitas Leiden, karena diminta oleh Prof. Clara Brakel, ahli tari Jawa di universitas tersebut. Setelah tampil di Belanda itulah, saya merasa menyesal selama ini tidak menguasai tarian tradisi atau kursus seni budaya lainnya dengan mahir. Jaipongan yang saya tampilkan saya pelajari sebentar saja pada mahasiswi saya.

Nah dari pengalaman di atas, sebelum menutup perbincangan ini, kepada semua mahasiswa dari berbagai suku bangsa di Indonesia yang sedang mengikuti acara IMBASADI, kuasailah sekurang-kurangnya satu seni tradisi; sastra, rupa, tari, suara, atau performa lainnya. Hal itu bisa menjadi senjata budaya bagi para mahasiswa bila kelak ke luar negeri. Tetapi walaupun tidak pergi ke luar negeri, kebisaan itu akan membawa kesadaran budaya bagi si empunya bahwa itu adalah sebagian identitas kita di tengah pusaran arus global yang tidak menentu. Selain itu, dari kekayaan batin idiom Sunda saya mengajak mahasiswa agar sing bisa ngigelan jaman, sukur-sukur bisa ngigelkeun jaman; ngindung ka waktu mibapa ka jaman bari teu lali ka purwadaksi! (supaya bisa mengikuti jaman, apalagi kalau bisa menguasai jaman tapi tidak lupa pada jati diri!). Cag!*

 

Bandung, 11 Oktober 2012

 

Referensi

DIKTI-ATL-NESO-KITLV. 2009. Pedoman Kajian Tradisi Lisan (KTL) sebagai Kekuatan Kultural. Jakarta: Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Depdiknas.

Isnendes, Chye Retty. 2012. Nyungsi Pustaka ka Walanda (Feature). Bandung: Mangle (Maret 2012).

_______, 2012. Pasar Malam Kliling Suriname (Profil). Bandung: UPI Chronicle (16 April 2012)

www.wikipedia.com diunggah 11/10/2012

 

Makalah ini untuk TEMU ILMIAH IMBASADI, 13 Oktober 2012 di PSBJ FIB UNPAD-Jatinangor. Chye Retty Isnendes adalah Dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI, sedang menempuh S3, dan mantan Sekjen IMBASADI 1996-1997.

2 comments on “IDENTITAS LOKAL DALAM PUSARAN GLOBAL

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: