BAHASA (POLITIK) EKOLOGI

(Dimuat pada Pikiran Rakyat, 07 Februari 2013)

 

Melestarikan bahasa Sunda

tanpa melestarikan ekologi Sunda

adalah omong kosong

Dalam sejarah umat manusia yang beragama, telah diyakini bahwa Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Sang Pencipta. Adam AS diciptakan dengan segala kesempurnaannya dari ujung rambut ke ujung kaki, bahkan diilhamkan pengetahuan-NYA tentang nama-nama benda di sekelilingnya. Pengetahuan tersebut dikomunikasikan oleh Adam AS dalam bentuk bahasa.

Pengetahuan terus berkembang, keberadaan bahasa terus diselidiki keunikannya oleh para ahli. Hingga tahun 1960, seorang Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari dua hemispher (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain penemuan tersebut, beliau juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.

Otak manusia tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kanan diidentikkan tentang kreativitas, persamaan, khayalan, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Sedangkan otak kiri biasa diidentikkan dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear, dan tahap demi tahap.

Kerja otak mengenai bahasa sangat menakjubkan. Dalam diagram Brooks disebutkan bahwa komunikasi bahasa manusia melewati beberapa tahap antara pembicara dan pendengarnya. Demikian bila dijelaskan, bahwa pembicara pada tahap awal mempunya isi pikiran, rasa, dan maksud mengkomunikasikan isi hatinya (praucap) lalu disusunlah kode bahasa (pengodean), setelah itu diucapkannya (ucapan). Suara-suara itu berada dalam keadaan transisi lalu masuk pada tahap pendengar mendengarkan suara-suara pembicara (pendengaran), lalu pendengar menyimak isi sandi (dikodekan kembali), dan akhirnya pendengar memaknai isi pikiran, rasa, dan maksud pembicaranya (pascaucap).

Menurut etnolog di dunia terdapat 49 kode bahasa besar di dunia. Bahasa yang menjadi alat komunikasi antar anggota masyarakat adalah berupa simbol bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa ini mengadung aspek bunyi ujaran yang bersifat arbitrer. Kearbiteran inilah yang memungkinkan berjenis-jenis bahasa hidup dan berkembang, sesuai dengan ciri khas wilayah yang didiami manusianya. Seperti di Indonesia, diperkirakan terdapat 748 bahasa ibu (daerah) yang dipergunakan panyaturnya dari Sabang sampai Merauke. Termasuk bahasa Sunda yang merupakan bahasa terbesar kedua yang digunakan oleh penggunanya di tatar Sunda.

Bahasa Sunda & Ekologi

Yang paling menarik dari kearbitreran ini adalah berpengaruhnya aspek ekologi dimana bahasa itu dipergunakan oleh panyaturnya. Aspek ekologi ini berjalin dengan aspek-aspek lainnya seperti hal-hal ideal (abstrak: konsep-konsep, pranata-pranata) dan hal-hal kongkrit antar manusia dan komunitasnya (hubungan sosial masyarakat) sehingga menghasilkan aspek budaya yang menjadi wahana bahasa tersebut tumbuh dan berkembang.

Ekologi menjadi bahan yang sangat berharga dalam pembentukan kata dan bahasa. Di tatar Sunda terutama, alam memancar dalam bahasa dan pandangan hidup orang Sunda. Dari penelitian mengenai flora Sunda yang penulis lakukan, tercatat nama-nama flora Sunda sebanyak 1131 data dari enam sumber tertulis dan dari lisan. Bahkan dari penelitian K. Heyne mengenai Tumbuhan Berguna di  Indonesia, dari sekitar 3000 nama tumbuhan tersebut, hampir 1/3 nya adalah nama-nama yang ditemukannya di tatar Sunda. Hal ini memperlihatkan dua kepastian, pertama, pemupuan data Heyne lebih lama di tatar Sunda dan kedua, pengetahuan orang Sunda tentang alam sekitarnya sangat kaya dan dalam.

Hal itu tidak mengherankan, karena menurut ahli sejarah suargi, Edi S. Ekadjati, fisiografi wilayah tatar Sunda berwujud dataran rendah alluvial di bagian utara dan pegunungan di bagian selatan. Perbandingan antara dataran rendah dan bagian pegunungan adalah 1:3. Ini membuktikan bahwa alam Jawa Barat lebih luas pegunungan daripada bagian dataran rendahnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya gunung yang ada di Jawa Barat, yaitu sekira 30 gunung. Di sela-sela kaki gunung dan bukit, hutan terhampar dan sungai mengalir. Jumlah DAS atau daerah aliran sungai di Jawa Barat mencapai 51 aliran., dan di keindahannya menyimpan aneka macam kekayaan tambang, mineral, dan hayati.

Keadaan demikian menjadikan bahasa Sunda bermuatan dan merekam ekologi Sunda, contohnya saja tentang pemilihan nama-nama tempat yang diterapkan pada satu wilayah atau kondisi alam tertentu memperlihatkan betapa eratnya hubungan manusia Sunda dengan ekologinya. Kita mengenal nama Bojong, Bobojong, Seke, Andir, Tanjung, Legon, Curug, Pancuran, atau tempat berawalan Ci-, itu semua memperlihatkan hubungan fisiografi dengan melimpahnya air di tatar Sunda. Atau jika kita mengenal nama tempat Garut, Lembang, Campaka, Malaka, Sempur, Bintaro, Manglid, (Seke)loa, (Ci)beunying, (Kebon) Kalapa, (Pasir)kiara, dan sebagainya, itu memperlihatkan sebagian dari kekayaan tumbuhan di tatar Sunda. Belum lagi bahasa yang berhubungan dengan pertanian, rumah tangga, dan pakasaban semua memperlihatkan betapa ekologi pada bahasa Sunda tidak bisa dipisahkan. Selain itu, yang mengendap menjadi nilai seperti idiomatik-idiomatik Sunda, semua bersumber dari ekologi.

Akan tetapi, ekologi yang menjadi bahan dan konteks bahasa Sunda terancam keselamatannya. WALHI (PR, 23/4/11) melaporkan empat hal yang merusak ekologi Sunda, yaitu: tekanan dan ledakan penduduk Jawa Barat yang terus meningkat, krisis sumber-sumber penghidupan; alam; pangan; energi; dan konversi lahan secara besar-besaran, meluasnya lahan kritis serta perusakan hutan, dan menurunnya daya dukung lingkungan hidup. Tiga hal terakhir, terjawab dengan secercah harapan akan terbitnya Inpres Moratorium Alih Fungsi Sawah (PR/03/01/13).

Mengenai moratorium ini, di Indonesia, Jawa Barat adalah provinsi yang paling parah kerusakan ekologinya. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya berjuang lebih dari moratorium (penundaan) saja, tetapi harus bisa menghentikan alih fungsi sawah dan lahan lainnya, terutama lahan hutan yang tinggal 9% saja. Hal itu dipandang mendesak dan akan lebih signifikan, mengingat keselamatan ekologi adalah juga keselamatan manusia dan bahasanya, terutama bahasa Sunda.

Pelestarian bahasa dan pelestarian ekologi harus dilakukan sejalan dan bersamaan, karena tidak mungkin melestarikan bahasa Sunda tanpa melestarikan ekologinya. Selain itu, pelestarian ini harus dilakukan serempak di lingkungan non-formal, in-formal, dan formal (lembaga pendidikan). Pembelajaran masyarakat didik harus dilakukan dengan tidak mengasingkannya dari ekologi, sehingga akan membantu merekatkan dan mengajegkan identitasnya kembali sebagai orang Sunda yang cageur, bageur, bener, pinter, singer, parigel, rancage, tur perceka dalam menjaga keseimbangan hidupnya di alam semesta. Semoga hal ini menjadi agenda bagi para calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.*

Bandung, 05/02/13

*Dosen JPBD UPI dan pemerhati lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: