AJIP ROSIDI: HANJUANG SIANG DI PELATARAN ZAMAN

: Chye Retty Isnendes

 

1

Saya pernah membandingkan antara bahasa karya Ajip Rosidi, Yus Rusyana, dan Wahyu Wibisana, pada majalah Mangle No. 1901. Mengapa yang disorot masalah bahasa? Karena bahasa yang digunakan oleh para penulis –terutama tiga pekarya sastra besar tadi– adalah medium ekspresi dan alat untuk membangun relasi pada tataran komunikasi dan kepercayaan dengan pembacanya. Dari bahasa karya mereka, pembaca bisa membaca, memahami, dan memaklumi kepribadian pekarya sastra pavoritnya.

Menurut saya, ketiga pekarya sastra besar tadi sudah mencapai daya keplastisan bahasanya, tetapi diksi-diksi (pilihan kata) yang mereka pakai tetap memperlihatkan kualitas individualnya masing-masing. Bahasa AR sangat tajam, tegas, tegar, kadang sinis, dan realistis. Bahasa YR kental, arhaik, simbolis, kadang membawa kita ke alam yang sangat asing, dan surealis. Bahasa WW sederhana berirama, kontemplatif, familiar, dan romantis.

Apabila bahasa ketiga pekarya sastra besar tadi diumpamakan pada istilah Ki Juru Pantun:

Handeuleum (nu) sieum

Hanjuang (nu) siang

maka, bahasa sastra YR adalah handeuleum, dan bahasa sastra AR adalah hanjuang, sedangkan bahasa sastra WW ada diantara keduanya. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Mengamati bahasa sastra YR, diantaranya dalam Jajaten Ninggang Papasten, sungguh merupakan karya yang penuh dengan kekuatan. Pohon dan daun handeuleum bersemu coklat kemerahan, bahkan daun yang sudah tua bersemu hitam. Bagi saya, pohon itu diibaratkan pada malam yang hitam, tentram, menyamarkan, dan penuh misteri. Pada malam yang dengan penuh kekuatan, sieum-nya sungguh indah dan hitamnya dinanti oleh semua mahluk untuk istirah. Karena pada malam hari makhuk Tuhan menyusun kembali kekuatan dirinya, menumpahkan rasa cinta dan rindunya, bersujud bertahajud meminta ampunnya, setelah seharian bekerja dan berkarya. Sieum-pun menyiratkan tempat-tempat angker dan keramat, hanya manusia berani dan berhati jati yang mampu menyelaminya.

Berbeda dengan bahasa sastra AR. AR diibaratkan hanjuang (nu) siang Mengapa demikian? Daun hanjuang berwarna hijau, merah, hijau-gading, dan merah ati, bahkan katanya ada yang berwarna putih (Cupumanik, No. 46). Walaupun nekawarnanya, tetapi sangat jelas dan terang, tidak sieum seperti handeuleum. Kenekawarnaanya diumpamakan waktu siang, karena matahari membawa terang, dan tampaklah dunia penuh warna. Pada siang semua menjadi jelas, tidak ada yang samar atau tak terlihat: kebaikan atau keburukannya. Pada siang semua makhluk bekerja dan memberdayakan kekuatan dirinya. Pada siang, manusia berusaha, menyandarkan dan mencapai cita-cita besarnya.

Sekarang, perhatikan kumpulan puisinya Jante Arkidam. Dengan bahasa yang lugas, terang, dan langsung, AR mengekspresikan gagasan-gagasannya. Sajak episnya “Jante Arkidam” dan “Bagus Rangin” tersusun dari kata-kata yang menyuarakan bunyi-bunyi yang parau, tidak nyaman, gundah, nada protes, tajam, menentang, menantang, ironi, bahkan sinis dan menusuk. Lambang-lambang suara yang diciptakan pada sajaknya melambangkan rasa yang memuatinya. Tetapi, AR juga sering mengutip idiom caang padang narawangan atau caang padang poe panjang. Konflik-solusi yang diciptakan AR pada karya sastranya memperlihatkan keberanian yang terang-terangan. AR tidak bersembunyi, tidak takut diintimidasi, tidak akan berbuat khianat, agak nekad tetapi sangat ikhlas.

Hanjuang pun menyimbolkan peringatan pada dimensi waktu dan tempat antara kejujuran dan ketidakjujuran. Hanjuang pun bisa ditafsirkan sebagai peringatan memberikan batas antara hak pribadi dan hak publik (Cupumanik, No. 46). Di sanalah metaphor bahasa sastra AR. Suara-suara pada bahasa sastranya adalah kejujuran yang terang-terangan menentang ketidakjujuran. Sebuah pribadi yang menjadi kritikan dan peringatan pada publik atas nama kebenaran. Sebuah pribadi yang menjadi bola api pada tulisannya; kritikus yang setia pada gagasannya.

Pun, bila hanjuang diartikan sebagai batas antara hidup dan mati, AR menghidupkan yang (hampir) mati: pantun. AR memberi (ruang) hidup genre sastra Sunda anyar: sajak. AR pun memberi (napas) hidup dengan tidak bosan-bosannya menulis jenis tulisan yang dipandang tabu: kritik sastra!

Lain halnya dengan bahasa sastra WW, saya membandingkannya dengan waktu diantara dua waktu (sieum dan siang). Di sanalah WW berada, pada keindahan fajar merekah, segarnya udara pagi, manisnya lembayung sore, ketika purnama cahya, atau gerimis tipis dan menghamburkan kristalnya, juga saat pelangi semburati pipi langit. Sungguh romantis bahasa sastra WW. Keromantisannya tetap tergambar walau pada waktu kilat membelah malam atau gelegar guntur memekik telinga; atau hujan bersambung petir. Bahasa-bahasanya yang sederhana tetapi penuh daya khayal yang luar biasa bisa dibaca pada karya-karya sastranya.

Lambang suara, bunyi, gaya, dan rasa yang mencirikan keindividualitasan yang berbeda pada pekarya sastra besar Sunda, adalah ciri khas bahasa sastra ketiganya yang telah berhasil merebut perhatian dunia pembaca (publik sastra Sunda). AR terutama, yang dengan gaya lantang dan tajam, selalu membuat metaphor perlawanan dan pencerahan pada wilayah terang tanpa rasa takut dan munafik. AR adalah hanjuang siang. **

2

Walaupun Ajip Rosidi tidak menempuh pendidikan formal kesarjanaan, tetapi buah pikirannya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bahasan dan hasil penelitiannya, (gaya) kritikan utamanya, telah diteliti oleh Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, guru besar dan dosen pasca sarjana di Fakultas Sastra UGM.

Pada khazanah sastra Sunda, karya-karya sastra, semi ilmiah dan ilmiah, dijadikan bahan dan rujukan pada perkuliahan di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda UPI. Sebut saja untuk beberapa mata kuliah, seperti: Teori Sastra, Sejarah Sastra Lama dan Sejarah Sastra Baru, buku-buku bahasan Ajip Rosidi menjadi rujukan utama, yaitu: Ngalanglang Kasusastraan Sunda, Kandjutkundang, Kesusastraan Sunda Dewasa Ini, dan Manusia Sunda, Puisi Sunda I, Pancakaki, dan yang terbaru, Sajak Sunda (antologi sajak). Untuk kuliah Kritik Sastra buku-buku semi ilmiah Ajip Rosidi dipergunakan juga sebagai bacaan mahasiswa untuk menulis teknik kritik sastra berdasarkan gaya impresionistiknya, selain isinya yang menghadirkan seputar persoalan sastra dan kebudayaan, tentu saja. Buku-buku tersebut adalah: Beber Layar, Dengkleung Dengdek, dan Dur Panjak!

Sangat sedikit penulis Sunda yang menulis bahasan sastra. Memang selain karya Ajip Rosidi, ada bahasan untuk keperluan teoritis karya Wahyu Wibisana, dkk: Lima Abad Sastra Sunda, karya Abdullah Mustappa: Wirahma Sajak, atau buku-buku dan makalah karya Prof. Dr. Yus Rusyana, di antaranya Galuring Sastra —yang sangat rasional ketika berbicara periode sastra Sunda, antologi tulisan ilmiah dosen-dosen Jurusan Sunda UPI Raksarasa dan Sonagar. Tetapi untuk keperluan kritik, sangat sedikit bahan untuk materi di dalam kelas.

Untuk keperluan praktis kritik sastra Sunda, saya pribadi selalu menyertakan buku-buku pembanding bagi karya Ajip Rosidi, yaitu buku Salumar Sastra karya Wahyu Wibisana, dkk., juga Catetan Prosa Sunda, Petingan, dan Sastra Sunda Sausap Saulas karya Duduh Durahman, atau tulisan lepas karya Usep Romli HM pada majalah Mangle.

Bagi saya, secara pribadi, kritikus sastra Sunda pada tataran teks baru tiga orang saja yang kapabel dan terus menulis, yaitu: Ajip Rosidi, Duduh Durahman, dan Usep Romli HM. Kritikus-kritikus muda yang potensial seperti Tedi ANM dan Hawe Setiawan, mungkin harus lebih mengkhususkan diri dan bergiat lagi menulis kritikannya demi pengayaan kritik Sunda secara teks dan praktis, bukan hanya pada tataran wacana.**

3

Yang paling menarik ketika mengajarkan Teori Sastra dan Kritik Sastra (Sunda) adalah ketika mengajarkan pendekatan yang dianggap baru pada tataran kesusastraan Sunda dan bahkan tidak dianggap dan dibenci adalah: Feminisme. Saya pernah mendengar bahwa Ajip Rosidi pun tidak suka pada pendekatan baru ini. Dan memang, ketika saya menulis tesis dengan memakai pendekatan ini, beliau tidak respek.

Padahal selama ini, saya meneliti dan menemukan, bahwa baru Ajip Rosidilah yang mengangkat persoalan perempuan pada bahasannya. Mungkin hal itu berhubungan dengan ruang kesadaran niat menulisnya. Tetapi pada wilayah teks, karya bahasan Ajip Rosidi ini sudah berperspektif feminis.

Pada Ngalanglang Kasusastraan Sunda, ada tulisan beliau yang berjudul ‘Carita Pantun: Lutung Kasarung’ pada bagian II dan ‘Tini Kartini: Jurig!’ adalah embrio tulisan feminisme. Pada judul pertama bagian II, sudut pandang penulis lebih mengangkat persoalan tokoh perempuan: Purbasari. Bahkan Ajip Rosidi menuliskan pandangannya tentang judul yang harusnya tersurat: Nyi Mas Purba Sari Ayu Wangi.

 

…Tapi lamun nilik eusina, cek kuring mah ieu carita the asa leuwih merenah lamun disebut Nyi Mas Purba Sari Ayu Wangi, nyaeta lamun nurutkeun kabiasaan urang Sunda sok make ngaran nu boga lalakon jadi carita lalakon.. Sabab saenyana mah nu boga lalakon dina eta carita lanin Guru Minda, tapi putri bungsu Prabu Tapa Ageung di nagara Pasir Batang Anu Girang…

Pada judul kedua ‘Tini Kartini: Jurig!’, Ajip Rosidi selain membahas karya kumpulan cerita pendek Sunda, Jurig!, juga memberi komentar dan mengevaluasi kepengarangan Tini Kartini.

Selain pada Ngalanglang Kasusatraan Sunda, pada bukunya Manusia Sunda, Ajip Rosidi menegaskan kembali idenya tentang tokoh perempuan pada cerita pantun Lutung Kasarung. Secara eksplisit, AR mengangkat tokoh perempuan ini dan menjadikannya judul pembahasan ‘Purba Sari Ayu Wangi’. Selain itu, AR pun mengetengahkan duo tokoh perempuan dalam cerita wawacan Purnama Alam, yaitu: ‘Dewi Pramanik dan Ratna Suminar’, dan juga ‘Raden Dewi Sartika’; tokoh nyata perempuan dan anak sejarah negeri ini.

Memang pada wilayah karya sastra telah banyak diangkat nasib perempuan (Sunda). Judul-judul yang sangat eksplisit membuktikannya, di antaranya: Tjarita Eulis Atjih, Tjarita Agan Permas, Neng  Yaya, Rusiah Nu Geulis karya Joehana, Siti Rayati dan Agan Sari Fatimah karya Muhammad Sanusi, Istri Pelit karya Moh. Ambri, Sri Panggung dan Kembang Rumah Tangga karya Caraka, Maryamah karya Suwarsih Djojopuspito, Dedeh karya Yus Rusamsi, ‘Apun Gencay’ dalam Jajaten Ninggang Papasten karya Yus Rusyana, Puputon dan Sekar Karaton karya Aam Amilia, serta Kembang-kembang Petinga karya Holisoh ME. Belum lagi yang tidak eksplisit, seperti Pipisahan karya RAF, Panganten karya Deden Abdul Aziz, dll.

Akan tetapi pada wilayah kajian (pembahasan semi dan ilmiah), baru Ajip Rosidilah yang mengangkat nasib perempuan dalam teks yang rasional. Dan itu adalah embrio feminisme;  kajian yang berpusat pada perempuan. Jadi, mengapa harus Ajip Rosidi menafikan kajian feminisme yang bisa dimanfaatkan pada belantara sastra Sunda? Padahal beliau adalah pengkaji pertama perihal perempuan pada ranah studi sastra Sunda.***

Dimuat pada buku 70 Tahun Ajip Rosidi (Penerbit: KIBLAT BUKU UTAMA, 2008)

6 comments on “AJIP ROSIDI: HANJUANG SIANG DI PELATARAN ZAMAN

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: