ADA APA DENGAN NASI?

Published April 19, 2014 by chyeretty

Chye Retty Isnendes

(Dimuat pada Tribun, Sabtu 12 April 14)

 

Banyak paradoks di negeri ini. Paradoks ini seringkali menjadikan esensi kosong tanpa makna. Seperti halnya ramai-ramai bicara kearifan lokal tetapi produk kearifannya diubah dan diganti dengan yang baru yang dianggap progresif, atau bahkan dihilangkan karena tinggaleun jaman dan tidak menginternasional, atau juga seperti iklan makan mie instan pada keluarga petani padi, dengan ukuran sangat besar pernah dipasang di Cianjur, dan sebagainya.

Begitu juga dengan nasi yang selalu dipermasalahkan, sampai-sampai memunculkan gerakan ONDR atau One Day No Rice (sehari tanpa nasi). Sebenarnya yang harus dikaji ulang itu adalah mengapa pemerintah memunculkan gerakan ini? Ada apa di belakang itu semua? Kalaulah memang nasi dianggap biang keladi bagi kesehatan (terutama bagi penderita diabet), dari sejumlah keterangan dokter dan artikel kesehatan justru bukan jenis makanannya yang menjadikan sakit tetapi karena karbohidrat yang bertumpuk tak dibatasi.

Adapun karbohidrat bukan hanya berada pada nasi tetapi juga pada talas, kentang, singkong, mie instan, dan roti (gandum) yang notabene makanan tersebut menghasilkan pati atau tepung pada tubuh kita, dan memang makanan-makanan tersebut adalah juga penghasil dan dihasilkan dari tepung. Jadi, sepertinya hal ini selesai pada saat kita memperhatikan banyaknya asupan karbohidrat dan juga gula pada tubuh kita. Kontrol diri dan kehati-hatian adalah yang terpenting bagi faal tubuh kita.

Selain itu, walau gerakan ODNR dicanangkan sejak tahun 2000-an tetapi impor beras malah menjadi. Hal ini harus digarisbawahi karena dengan adanya ODNR, yang dirugikan adalah petani Indonesia dengan berbagai macam permasalahannya. Belum lagi bicara tentang lahan pertanian yang semakin menyusut, berdirinya pabrik di area pertanian, masalah hukum, masalah sosial, masalah budaya, dan masalah lingkungan yang semuanya berada pada wilayah agraria atau tanah negara. Jadi, carut marut masalah pertanian ini lebih terkait dengan politik yang tidak berpihak dan lemahnya pengendalian masalah. Hal ini mengakibatkan petani Indonesia semakin miskin dan dimiskinkan, atau dalam babasan Sunda disebutkan bahwa patani kari daki.

Padahal jika menengok pada sejarah tradisional tentang pertanian di Tatar Sunda misalnya, Haji Hasan Mustapa tahun 1913 dalam bukunya Bab Adat Oerang Priangan djeung Oerang Soenda Lian ti Eta telah melaporkan betapa tinggi dan bergengsinya profesi ini pada pasal ketujuh tentang “Adat Tatanen di Priangan”. Menjadi petani mukti ‘berhasil’ sangat didamba bahkan menjadi akuan profesi secara umum. Kesejahteraan diibaratkan jadi jelema buncir leuit, gede duit, loba ketan loba keton.

Bertani dalam pengertian tradisional adalah menanam padi, yang disebut juga sebagai tani asal, yang hasilnya tidak diperjualbelikan, tetapi kembali dimakan dan menjadi unsur hara yang penting bagi tubuh (kembali ke asal). Selain itu, sejarah panjang tentang huma dan sawah di Priangan yang diabadikan dalam karya sastra di antaranya dalam carita pantun dan dongeng, hal itu seharusnya menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah ketika akan mengubah kebijakan politik pertanian.

Kehidupan para petani waktu itu adalah sistem yang sangat teratur, mapan, dan penuh penghargaan. Hal itu kemudian menjadi budaya tersendiri yang mencerminkan budaya Sunda secara keseluruhan. Karena bila kita berbicara budaya Sunda maka tak dapat disangkal bahwa unsur-unsur di dalamnya sangat erat dengan lingkungan alam dan pertanian. Pun demikian dengan budaya Nusantara lainnya.

Kenyataan-kenyataan tersebut, sepertinya dijadikan landasan pijak para pendiri NKRI. Hal tersebut dibuktikan dengan disusunnya kebijakan mengenai Reforma Agraria (RA), yang awalnya dimulai dengan gagasan Bung Hatta dalam pidatonya “Ekonomi di Masa Depan” (1946) yang merupakan kehendak bersama para pendiri Republik ini. Inti sarinya adalah bahwa sebagai negara agraris, maka landasan pembangunan itu harus dimulai dari pembangunan pertanian. Oleh karena itu, urusan tanah harus dibenahi terlebih dulu. Tetapi Reforma Agraria yang oleh Pemerintahan Orde Lama dianggap peraturan ideal dalam mengatur tanah negara, dengan serta merta ditinggalkan dan dipetieskan oleh Pemerintah Orde Baru.

Berdirinya Pemerintahan Orde Baru yang berbarengan dengan gerakan Revolusi Hijau (RH) di Asia mengganti kebijakan dengan sistem pembangunannya yang terkenal REPELITA. Pada pertengahan tahun 1980-an setelah lima belas tahun pembangunan, Indonesia berhasil swasembada pangan tetapi sayang hanya sebentar saja. Pemerintah Orde Baru kemudian mengubah lagi kebijakan dengan segera menuju pada sektor industri, dan mulailah keadilan sosial yang diatur dalam Reforma Agraria yang ditinggalkan oleh Pemerintah Orde Baru memperlihatkan hasilnya yaitu maraknya konflik agraria (tanah negara) yang meluas. Belum lagi kebijakan yang membuka dan menarik pemodal asing (Penanaman Modal Asing) yang melupakan keberpihakan pemerintah ini pada rakyat. Terakhir, yang membuat pertanian Indonesia terpuruk adalah kampanye Globalisasi Ekonomi yang merupakan perpanjangan tangan dari isme Neo Liberal yang kemudian dianut oleh bangsa ini. Demikian analisa ahli pertanian Gunawan Wiradi (2005).

Kini di era reformasi, ketidakjelasan tersebut semakin memprihatinkan karena para pemimpin negara ini sepertinya lupa mengaitkan arah pembangunannya dengan filosofis bangsa ini. Terutama masalah pertanian atau agraria, ibaratnya cul dogdog tinggal igel. Mereka lebih mengedepankan pasar daripada tanah, tempatnya berpijak dan menjunjung langit kehormatan diri dan bangsanya.

Ada baiknya pemimpin di Jawa Barat tidak ikut-ikutan berkampanye ODNR tetapi berpihak dan melindungi petani dan lahan pertanian. Hal itu dikarenakan memperbincangkan nasi bukan hanya memperbincangkan kesehatan semata, tetapi lebih dari itu: memperbincangkan budaya, hukum, sosial, politik, dan terutama filosofis sebagai sebuah bangsa yang besar dan keadilan sosial yang jembar. Dan itulah alasan mengapa nasi tak tergantikan!*

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: