RADEN DEWI SARTIKA, MIMPI, DAN SASTRA SUNDA

Published Desember 19, 2014 by chyeretty

: Chye Retty Isnendes

/1/

Perjumpaan saya dengan Raden Dewi dimulai ketika kelas V SD. Saya berjumpa dengan beliau di kelas pada sebuah buku legendaris: TAMAN PAMEKAR Jilid III karya A. Sanusi dan Samsudi. Melalui Isah yang bercerita, saya jatuh cinta pada Raden Dewi Sartika. Saya membayangkan bertemu dengan beliau, saya mengagumi dengan sangat sepak terjangnya, dan yang paling mengendap dalam benak saya adalah rumpaka kawih yang sangat memikat yang ditulis dan disanggi oleh Pa (Rd.) Machyar.

RADEN DEWI SARTIK1

Lewat lagu yang sederhana tapi indah dan syair yang puitis, penuh dengan purwakanti (sajak, metrum, rima) dan kata-kata penuh makna, Raden Dewi terpapar di kalbu seorang anak kelas V SD di sebuah kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang jauh dari puseur kasundaan; Bandung. Saya merasa bahwa dia benar-benar menitis pada saya sebagai ‘perempuan’ Sunda. Dalam pengertian seorang anak kelas V SD, kesadaran diri saya timbul tentang jati diri yang berhubungan dengan kasundaan.

Kesadaran itu berdampingan dengan kekaguman pada tokoh perempuan lain, R.A. Kartini yang secara nasional lebih banyak disebut namanya. Saya bertanya-tanya bagaimana harus mencintai keduanya dan memposisikan mereka? Karena mau-tak-mau R.A. Kartini lebih dahulu saya kenali ketika lagu “Ibu kita Kartini…” telah diperkenalkan di kelas II SD. Saya merasakan ketidakadilan, mengapa Raden Dewi tidak ada lagu Indonesia-nya? Pertanyaan-pertanyaan yang terus mengusik itu, sebetulnya berawal dari ketika mulai belajar pahlawan-pahlawan perempuan nasional selain Raden Dewi dan R.A. Kartini, yakni Tjut Nya’ Dien, Tjut Mutia, Martina Tiahahu, dll, karena saya mencintai mereka semuanya dan ingin seperti mereka semuanya.

Ketika di SMP, saya membaca buku Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto, saya mendapat penjelasan lebih gamblang, siapa itu Raden Dewi. Saya semakin mengaguminya dan merasa bahwa ia benar-benar ibu orang Sunda, ibu para perempuan Sunda, bahkan saya menganggap dia karuhun (leluhur) saya. Mungkin satu pengakuan yang lebay tapi memang seperti itu. Sampai pada suatu hari, guru bahasa Sunda di SMP menugaskan membuat sajak Sunda, saya bersorak, karena saya akan menulis sajak tentang Raden Dewi, itu tekad saya.

Setelah seminggu berkutat dengan ngimpleng beliau, selesailah empat bait sajak Sunda yang setiap baitnya terdiri dari empat larik/baris. Saya merasa bahagia telah membuat sajak yang menurut saya sangat indah. Tapi apa, yang terjadi? Ketika minggu depannya lagi sajak-sajak yang telah dinilai oleh guru tersebut dibagikan, sajak saya tidak kembali. Kata guru tersebut, ada sajak yang tidak saya bagikan karena sajak tersebut kelihatannya dari menyadur bukan karya anak-anak. Deg, ya Allah sakit sekali hati saya ketika itu. Tapi apalah artinya sakit hati anak SMP kelas II? Kejadian itu sangat membekas, lama sekali, sampai saya membenci diri sendiri dan guru bahasa Sunda yang awalnya sangat saya sukai –setelah di Perguruan Tinggi dan sajak-sajak saya telah banyak dimuat di Mangle, saya baru sadar bahwa saya terus menulis puisi itu untuk membuktikan bahwa saya bisa menulis dan tidak menyadur. Saya berterima kasih pada guru bahasa Sunda yang secara tidak langsung menjadi motivator dalam menulis puisi Sunda.

/2/

Ketika di IKIP Bandung semester 4, setelah membaca artikel Dewi Sartika pada Manusia Sunda-nya Ajip Rosidi, malam harinya saya melihat seorang perempuan bayuhyuh (gemuk) dengan pakaian kebaya dan sinjang bersanggul pula, duduk di lantai dengan tiga-empat remaja putri, tapi wajahnya tidak kelihatan. Saya merasa mengenal beliau, dan hati saya bergetar. Harempoy duduk di hadapannya bergabung dengan remaja putri tadi. Saya ingin sekali menyapanya tapi mulut terkunci. Ketika bangun, baru sadar bahwa itu mimpi. Lama sekali saya tercenung. Beberapa kali saya berusaha tuliskan peristiwa dalam mimpi tersebut untuk dijadikan cerita pendek tentang perjumpaan itu, tidak berhasil. Walaupun dmikian, saya yakin beliau adalah Ibu Dewi Sartika.

Semester 8, kembali saya bermimpi tentang beliau. Dalam mimpi itu, saya melihat ada pertemuan di atas rumah panggung. Lalu saya naik tangga rumah panggung itu dan melihat seorang yang wajahnya seperti Ibu Dewi Sartika (wajahya terlihat) tersenyum pada saya. Pakaian yang dikenakannya kabaya dan sinjang lengkap dengan sanggulnya. Tangannya ngagupay pada saya dan saya menghampiri beliau. Di hadapan beliau duduk perempuan-perempuan muda yang diberi piwejang olehnya. Saya pun duduk di hadapan beliau bergabung dengan perempuan-perempuan itu. Ketika saya bangun, saya kembali tercenung, tidak tahu apa tabir mimpi itu.

Tahun 2002-2004 ketika melanjutkan studi di UGM, perasaan saya tercabik sebagai seorang ibu yang harus meninggalkan anaknya yang masih bayi dan sebagai seorang perempuan pencari ilmu yang penuh semangat dan idealisme. Akhirnya kegalauan itu saya ekspresikan melalui sajak –kini sajak itu dimuat pada Nu Nyusuk dina Sukma (2010).

KATUMBIRI ENJING-ENJING

Sajak itu seolah dialog jiwa antara ibu dan anak perempuannya. Entah mengapa, saya begitu yakin bahwa Sartika lebih hebat dari Kartini, sehingga saya menulis klausa ‘aya dua Sartika nu ketakna ngendagkeun dunya!’. Dalam sajak itu saya juga memakai diksi ‘ketak’. Dalam arti usaha yang luar biasa dari kekuatan Ibu Raden Dewi Sartika yang mengerahkan daya: jiwa dan raganya demi pendidikan perempuan yang pada akhirnya mengubah cara pandang Dalem Bupati; yang merupakan simbol turunan sistem kolonialisme. Sungguh hebat daya Ibu Raden Dewi Sartika mengguncang dunia waktu itu.

Makna ‘dua Sartika’ (kekuatan Raden Dewi Sartika) yang saya lekatkan pada puisi Sunda itu, ternyata terbukti ketika saya menulis tesis. Dari hasil penelusuran kepustakaan, menganalisis, dan memperbandingkan referensi mengenai Raden Dewi Sartika ini, ‘dua Sartika’ atau baca: dua kekuatan; kekuatan ganda; kekuatan rohaka; saya mendapat hasil mengenai itu.

/3/

Dengan tidak bermaksud membandingkan, semua orang percaya Kartini hebat dengan gagasannya, tetapi Sartika ternyata lebih hebat lagi. Selain gagasan perempuan mendapatkan hak pendidikan, Sartika juga mempunyai gagasan kemandirian dengan memberikan pengajaran keterampilan soft skill pada anak didiknya! Gagasan itu dituliskannya dalam bahasa Belanda dan dibukukan (bukan hanya surat) dalam De Indlandsche Vrouw ‘Wanita Bumiputra’ (1914) (Rosidi, 1985:128). Selain menulis dalam bahasa Belanda, beliau juga menulis dalam bahasa Sunda, di antaranya berupa buku dengan judul Boekoe Kautamaan Istri ‘Buku Keutamaan Perempuan’ (1912). Peran media massa seharusnya ikut mempublikasikan ini, memancarkan informasi mengenai gagasan-gagasannya raden Dewi Sartika yang luar biasa.

Gagasan Pertama. Mengenai bagaimana Sartika mewujudkan gagasan perempuan mendapatkan hak pendidikan dengan sekolah, patut kita ketahui peristiwa ini. Sejarah mencatat, begitu kerasnya hati Raden Dewi dalam memperjuangkan berdirinya sekolah bagi perempuan ini. Berkali-kali beliau menghadap Bupati Bandung (R.A.A. Martanagara, yang juga pamannya) dalam usahanya itu, tetapi Bupati tetap tidak mengizinkannya. Suatu saat, Raden Dewi untuk kesekian kalinya menghadap Bupati, beliau bersujud dan menangis di kaki pamannya, kembali memohon izin. Saat itulah hati Bupati Bandung tersentuh dan mengakui keteguhan Raden Dewi, beliau kemudian memberi izin Raden Dewi membuka sekolah bagi para perempuan.

Sakola Istri pun berdiri tahun 1904 (Kunto, 1984:204) ketika Raden Dewi Sartika berusia 20 tahun. Sekolah ini terus berkembang, dan pada tahun 1910 sekolah tersebut berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Pada tahun 1929 nama sekolah itu kembali berubah menjadi Sakola Raden Dewi. Pada tahun 1912 di seluruh tatar Sunda telah berdiri sembilan (9) buah Sakola Kautamaan Istri. Hal ini berarti hitungan setengah daripada jumlah seluruh sekolah yang terdapat di tatar Sunda ketika itu (Rosidi, 1985:126).

Raden Dewi Sartika lahir tanggal 4 Desember 1884, yang lebih muda empat tahun dari R.A. Kartini (Lubis, 2000:192) mencuri perhatian dan membuat iri Kartini, sampai-sampai beliau menulis di suratnya bahwa ada seorang perempuan hebat dari tatar Sunda yang dengan sepak terjangnya dapat mendirikan sekolah (Kartini meninggal tahun 1905 ketika berusia 25 tahun).

Gagasan Kedua. Gagasan kedua diwujudkan Raden Dewi Sartika dengan membuat kurikulum pendidikan tersendiri, yaitu: membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan (kemandirian). Keterampilan ini dibelajarkan pada remaja-remaja putri yang menjadi anak didiknya dengan teknologi tradisional dan modern waktu itu, yakni: memasak, menjahit, mencuci, menyetrika pakaian, membordir, kesehatan keluarga, kesenian, kerajinan tangan, dan membatik. Bahkan untuk membatik ini, Raden Dewi Sartika belajar sendiri kepada Raden Ayu, istri Bupati di Tegal selama dua bulan. Lalu hasilnya beliau ajarkan lagi pada anak didiknya di kelas tertinggi.

Ketak Hebat. Selain gagasannya, Raden Dewi Sartika mempunyai kehebatan ketak ‘daya juang’ yang tinggi. Beliau menulis, beliau terus memajukan gagasannya pada Bupati Bandung dan tak mengenal putus asa, beliau terjun langsung mengajar sendiri anak didiknya, beliau belajar keterampilan membatik sampai dua bulan, bahkan beliau bertekad tidak akan menikah bila tidak dengan laki-laki yang mendukung usahanya.

Akhirnya pada usia 22 tahun, beliau ‘baru’ menikah dengan seorang lelaki bernama Raden (Kanduruan) Agah Suriawinata, seorang guru HIS yang banyak membantu dan menopang perjuangannya. Hasilnya, tidak sia-sia. Seperti ditulis sebelumnya, tahun 1912 sudah berdiri sembilan (9) sekolah perempuan di berbagai kabupaten di Tatar Sunda, bahkan di Sumatra berdiri Sakola Kautamaan Istri, yang dibantu oleh mantan anak didiknya Rohana Kudus.

/4/

Gagasan Raden Dewi Sartika mempengaruhi pemikiran perempuan-perempuan Sunda. Gagasan tentang kemandirian perempuan dan gagasan persamaan hak pendidikan menjadi hipogram bagi perempuan-perempuan yang berprestasi dalam profesi dan akademisi, juga menjadi gagasan bagi setiap penulis perempuan sesudah PD II sampai sekarang ini.

Dalam khasanah sastra Sunda, perempuan yang tercatat pertama kali menuliskan karya sastranya adalah Raden Ayu Lasminingrat. Buah karyanya berjudul Tjarios Erman, sebuah wawacan keluaran Batavia tahun 1875. Sejarahwan Deddy Effendie menyebutnya tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia. Dialah Raden Ajeng Lasminingrat. Lasminingrat lahir di Garut, Jawa Barat pada tahun 1843, sekitar 40 tahun sebelum Kartini dan Dewi Sartika dilahirkan. Lasminingrat adalah putri dari pasangan Raden Haji Muhamad Musa –penghulu daerah setempat sekaligus sastrawan Sunda yang terkenal pada zamannya– dan Raden Ayu Ria.

Mulai dekade 1870-an Lasminingrat mulai menghasilkan karya-karyanya, baik menerjemahkan buku-buku asing maupun menulis karya sendiri. Pada tahun 1875, Lasminingrat mengadaptasi buku karya Christoph von Schmidt ke dalam bahasa Sunda, menjadi berjudul Tjarita Erman. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan huruf Jawa lalu dicetak ulang, masih menggunakan huruf Jawa, pada tahun 1911 dan pada tahun 1922 dicetak ulang lagi dnegan menggunakan huruf Latin. Pada tahun 1876, Lasminingrat menerjemahkan buku Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (Cerita dari negeri dongeng untuk anak-anak) menjadi buku berjudul Warnasari atawa Roepa-Roepa Dongeng. Setahun setelahnya, Lasminingrat menerbitkan jilid kedua dari terjemahan buku ini dan mengalami tiga kali cetak ulang dalam huruf Jawa maupun Latin (http://indonesiasetara.org/pelopor-penulis-wanita-lasmini).

Walaupun Lasminingratpun mendirikan sekolah, akan tetapi dari nama sekolahnya Kautamaan Istri, ditengarai merupakan pengejawantahan sinkronitas beliau dengan gagasan Raden Dewi Sartika. Selain itu, sekolah yang dirintisnya di ruang Kabupaten Garut tahun 1907 itu, tiga tahun setelah Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri tahun 1904. Akan tetapi, kalau kemudian Raden Dewi Sartika tahun 1910 mengganti nama sekolahnya menjadi Sakola Kautamaan Istri, apakah ini terinspirasi dari nama sekolah Lasminingrat atau hanya kebetulan belaka, tidak mengubah sejarah bahwa Raden Dewi Sartika merupakan pelopor pertama pendiri sekolah untuk kaum perempuan dan beliau mampu menjadi motivator dan mobilisator potensi-potensi yang berkembang di sekitarnya, sehingga pemerintah mau memfasilitasi gagasan Raden Dewi. Selain itu, Raden Dewi Sartika mampu menjadi pengelola pendidikan yang sukses pada masanya.

Setelah Lasminingrat dan Sartika, penulis perempuan –dalam hal ini sastrawan– pada masa sebelum Perang Dunia II yang tercatat adalah: Rd. Lenggang Kencana (1912), Nyi Mas Lengkana (1922), R.H. Siti Hadijah (1922), Siti Royati (1923), Neng Hayani (1926), Nyi Rd. Sasmitadimadja Permasih (1926), J. Widasih (1928), dan Rd. Ayu Dewi Pertama (?) (1930). Karangan-karangan mereka bergenre wawacan dan dongeng yang tergolong pada sastra klasik (Ekadjati dan Harjasaputra, 1989).

Setelah PD II, khasanah sastra Sunda mencatat nama-nama penulis prosa dan puisi perempuan. Dari tulisan Ekadjati & Hardjasaputra (1989), Durahman (1991), dan Rosidi, (2000), Isnendes (2004:14) kemudian mengklasifikasikan nama-nama tersebut ke dalam angkatan pengarang perempuan berdasarkan tahun mengumumkan karyanya, yaitu sebagai berikut.

  1. Angkatan 1950-1960, yaitu: Suwarsih Djojopuspito dan Suratmi Sudir[1].
  2. Angkatan 1960-1980, yaitu: Tini Kartini, Tien Wirahadikusumah, Atie W.R., Aam Amilia, Hana Rohanda Suwanda, Yati M. Wihardja, Damarjanti, Ningrum Djulaeha, Etty S, Sukaesih Sastrini, Ami Raksanagara, Naneng Daningsih, En Henry Sinaga, Yooke Tjuparmah, Cicih Kurniasih, Tetty Suharti, Dyah Padmini, Holisoh ME, Tety S. Nataprawira, Sum Darsono, Tetti Hodijah, dll.
  3. Angkatan 1980-2000, yaitu: Etti RS, Tetti Hodidjah, Nita Widiati Efsa, Risnawati, Imas Rohilah, Dian Ratnaningsih, Rien Candraresmi, Elis Ernawati, Chye Retty Isnendes, Pipiet Senja, dll. (Isnendes, 2004:16).
  4. Angkatan 2000-2020, yaitu: Ruhaliah, Senny Suzana, Popon Saadah, Tiktik Rusyani, Ed Jenura, Nunung Saadah, Ai Koraliati, Onnok Rahmawati, Firda Aulia, Hena Sumarni, dll. (Isnendes, 2014:172)

Penulis-penulis angkatan ke-2 dan ke-3 sebagian besar terangkum kedalam perkumpulan sastrawati Sunda: PATREM[2] (tusuk sanggul). Demikian juga angkatan ke-4 –PATREM ini dibidani oleh tokoh perempuan Jawa Barat dalam bidang politik: Popong Djundjunjan bersama sastrawati Sunda. Walaupun demikian secara keseluruhan biasanya para penulis ini berada di bawah naungan PP-SS (Paguyuban Panglawungan Pangarang Sunda) atau semacam paguyuban silaturahmi pengarang Sunda dan sekarang yang sedang populer FBS (Fiksimini Basa Sunda) di dunia maya.*

[1] Pada tahun 1950-1960, dari penelusuran pustaka, nama perempuan penulis sastra yang tercatat hanya dua orang di atas.

(2) PATREM atau tusuk sanggul, diambil sebagai nama paguyuban karena dianggap mengandung nilai historis dan simbolis. Nilai historis karena patrem dipakai oleh Putri Sunda Pajajaran, Dyah Pitaloka, sebagai senjata membela diri dan bunuh diri demi kehormatan kerajaan, ketika menghadapi wadyabala Gajah Mada di Lapangan Bubat-Trowulan. Nilai simbolis karena patrem dijadikan lambang sebagai senjata perempuan yang berprofesi penulis sastra. Simbol ini bermakna ganda, yaitu sebagai hiasan sanggul bagi perempuan (feminin) sekaligus sebagai senjata dan kekuatan (feminis) (https://chyeretty.wordpress.com)

Artikel ini dipresentasikan pada acara MILANGKALA 13 DASAWARSA RADEN DEWI SARTIKA pada tanggal 141214 di Gd. Kebudayaan UPI.

ADA APA DENGAN NASI?

Published April 19, 2014 by chyeretty

Chye Retty Isnendes

(Dimuat pada Tribun, Sabtu 12 April 14)

 

Banyak paradoks di negeri ini. Paradoks ini seringkali menjadikan esensi kosong tanpa makna. Seperti halnya ramai-ramai bicara kearifan lokal tetapi produk kearifannya diubah dan diganti dengan yang baru yang dianggap progresif, atau bahkan dihilangkan karena tinggaleun jaman dan tidak menginternasional, atau juga seperti iklan makan mie instan pada keluarga petani padi, dengan ukuran sangat besar pernah dipasang di Cianjur, dan sebagainya.

Begitu juga dengan nasi yang selalu dipermasalahkan, sampai-sampai memunculkan gerakan ONDR atau One Day No Rice (sehari tanpa nasi). Sebenarnya yang harus dikaji ulang itu adalah mengapa pemerintah memunculkan gerakan ini? Ada apa di belakang itu semua? Kalaulah memang nasi dianggap biang keladi bagi kesehatan (terutama bagi penderita diabet), dari sejumlah keterangan dokter dan artikel kesehatan justru bukan jenis makanannya yang menjadikan sakit tetapi karena karbohidrat yang bertumpuk tak dibatasi.

Adapun karbohidrat bukan hanya berada pada nasi tetapi juga pada talas, kentang, singkong, mie instan, dan roti (gandum) yang notabene makanan tersebut menghasilkan pati atau tepung pada tubuh kita, dan memang makanan-makanan tersebut adalah juga penghasil dan dihasilkan dari tepung. Jadi, sepertinya hal ini selesai pada saat kita memperhatikan banyaknya asupan karbohidrat dan juga gula pada tubuh kita. Kontrol diri dan kehati-hatian adalah yang terpenting bagi faal tubuh kita.

Selain itu, walau gerakan ODNR dicanangkan sejak tahun 2000-an tetapi impor beras malah menjadi. Hal ini harus digarisbawahi karena dengan adanya ODNR, yang dirugikan adalah petani Indonesia dengan berbagai macam permasalahannya. Belum lagi bicara tentang lahan pertanian yang semakin menyusut, berdirinya pabrik di area pertanian, masalah hukum, masalah sosial, masalah budaya, dan masalah lingkungan yang semuanya berada pada wilayah agraria atau tanah negara. Jadi, carut marut masalah pertanian ini lebih terkait dengan politik yang tidak berpihak dan lemahnya pengendalian masalah. Hal ini mengakibatkan petani Indonesia semakin miskin dan dimiskinkan, atau dalam babasan Sunda disebutkan bahwa patani kari daki.

Padahal jika menengok pada sejarah tradisional tentang pertanian di Tatar Sunda misalnya, Haji Hasan Mustapa tahun 1913 dalam bukunya Bab Adat Oerang Priangan djeung Oerang Soenda Lian ti Eta telah melaporkan betapa tinggi dan bergengsinya profesi ini pada pasal ketujuh tentang “Adat Tatanen di Priangan”. Menjadi petani mukti ‘berhasil’ sangat didamba bahkan menjadi akuan profesi secara umum. Kesejahteraan diibaratkan jadi jelema buncir leuit, gede duit, loba ketan loba keton.

Bertani dalam pengertian tradisional adalah menanam padi, yang disebut juga sebagai tani asal, yang hasilnya tidak diperjualbelikan, tetapi kembali dimakan dan menjadi unsur hara yang penting bagi tubuh (kembali ke asal). Selain itu, sejarah panjang tentang huma dan sawah di Priangan yang diabadikan dalam karya sastra di antaranya dalam carita pantun dan dongeng, hal itu seharusnya menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah ketika akan mengubah kebijakan politik pertanian.

Kehidupan para petani waktu itu adalah sistem yang sangat teratur, mapan, dan penuh penghargaan. Hal itu kemudian menjadi budaya tersendiri yang mencerminkan budaya Sunda secara keseluruhan. Karena bila kita berbicara budaya Sunda maka tak dapat disangkal bahwa unsur-unsur di dalamnya sangat erat dengan lingkungan alam dan pertanian. Pun demikian dengan budaya Nusantara lainnya.

Kenyataan-kenyataan tersebut, sepertinya dijadikan landasan pijak para pendiri NKRI. Hal tersebut dibuktikan dengan disusunnya kebijakan mengenai Reforma Agraria (RA), yang awalnya dimulai dengan gagasan Bung Hatta dalam pidatonya “Ekonomi di Masa Depan” (1946) yang merupakan kehendak bersama para pendiri Republik ini. Inti sarinya adalah bahwa sebagai negara agraris, maka landasan pembangunan itu harus dimulai dari pembangunan pertanian. Oleh karena itu, urusan tanah harus dibenahi terlebih dulu. Tetapi Reforma Agraria yang oleh Pemerintahan Orde Lama dianggap peraturan ideal dalam mengatur tanah negara, dengan serta merta ditinggalkan dan dipetieskan oleh Pemerintah Orde Baru.

Berdirinya Pemerintahan Orde Baru yang berbarengan dengan gerakan Revolusi Hijau (RH) di Asia mengganti kebijakan dengan sistem pembangunannya yang terkenal REPELITA. Pada pertengahan tahun 1980-an setelah lima belas tahun pembangunan, Indonesia berhasil swasembada pangan tetapi sayang hanya sebentar saja. Pemerintah Orde Baru kemudian mengubah lagi kebijakan dengan segera menuju pada sektor industri, dan mulailah keadilan sosial yang diatur dalam Reforma Agraria yang ditinggalkan oleh Pemerintah Orde Baru memperlihatkan hasilnya yaitu maraknya konflik agraria (tanah negara) yang meluas. Belum lagi kebijakan yang membuka dan menarik pemodal asing (Penanaman Modal Asing) yang melupakan keberpihakan pemerintah ini pada rakyat. Terakhir, yang membuat pertanian Indonesia terpuruk adalah kampanye Globalisasi Ekonomi yang merupakan perpanjangan tangan dari isme Neo Liberal yang kemudian dianut oleh bangsa ini. Demikian analisa ahli pertanian Gunawan Wiradi (2005).

Kini di era reformasi, ketidakjelasan tersebut semakin memprihatinkan karena para pemimpin negara ini sepertinya lupa mengaitkan arah pembangunannya dengan filosofis bangsa ini. Terutama masalah pertanian atau agraria, ibaratnya cul dogdog tinggal igel. Mereka lebih mengedepankan pasar daripada tanah, tempatnya berpijak dan menjunjung langit kehormatan diri dan bangsanya.

Ada baiknya pemimpin di Jawa Barat tidak ikut-ikutan berkampanye ODNR tetapi berpihak dan melindungi petani dan lahan pertanian. Hal itu dikarenakan memperbincangkan nasi bukan hanya memperbincangkan kesehatan semata, tetapi lebih dari itu: memperbincangkan budaya, hukum, sosial, politik, dan terutama filosofis sebagai sebuah bangsa yang besar dan keadilan sosial yang jembar. Dan itulah alasan mengapa nasi tak tergantikan!*